Langit menggelap.
Atap bumi yang biasanya berwarna biru itu akan menumpahkan butiran-butiran air.
Gadis bermahkotakan pirang ini tidak peduli dengan langit diatasnya. Ia tetap
bersimpuh di depan gundukan tanah sejak setengah jam yang lalu. Meskipun gadis
ini tahu apa resikonya kalau Ia tetap berada di sana sampai langit membuat makam
di depannya ini basah karena air hujan. Ralat. Bukan hanya basah karena air
hujan. Tapi juga basah karena iris biru langit matanya juga akan menumpahkan
bulir-bulir air. Langit-mewakili keadaannya saat ini.
“Ayah…” akhirnya
bibir mungil gadis ini berucap diikuti lelehan air mata yang turun semakin
deras “Aku masih belum bisa melepasmu. Aku masih ingin bersamamu. Aku… aku
merindukanmu…” Ucap Ino lagi.
Tubuhnya bergetar.
Kedua tangan putihnya meremas tanah di bawahnya. Gadis ini menunduk dalam-dalam
sambil terisak. “Aku ingin mencoba melupakan semua ini… Tapi… rasanya sakit.”
Ino menghirup nafas dalam dan menghembuskannya kuat-cukup untuk sedikit
menghentikan isakannya. “Sakit sekali…”
Ino masih
menangis. Tangan-tangannya yang sedikit kotor, membekap mulutnya sendiri-upaya
yang dilakukannya untuk meredam tangisannya. Ia bahkan tak kuat walau hanya
sekedar membuka matanya. Toh, kalau matanya terbuka, Ia tetap tidak bisa
melihat karena netranya tertutup selaput bening. Melihat sih masih bisa, tapi
samar-samar.
Bisa dibilang, ini
rutinitas baru Ino setelah perang berakhir-menangis di depan makam ayahnya.
Kepergian ayahnya secara tiba-tiba, benar-benar suatu pukulan untuknya. Sudah
cukup Ino kehilangan orang-orang yang dicintainya. Mendiang ibunya yang
meninggal karna penyakit dan gurunya yang gugur dalam misi. Semenjak itu, Ino
tidak ingin kehilangan seseorang lagi. Terutama ayahnya. Tapi apa daya. Inoichi
Yamanaka gugur dalam perang. Ia gugur sebelum Ino mengatakan sesuatu padanya.
Beberapa menit
dalam keadaan tadi, dengan paksa, Ino mengangkat kepalanya-menghapus jalan air
mata di pipinya-menghentikan tangisannya setelah Ia merasakan chakra seseorang
mendekat. Chakra yang familiar bagi Ino. Chakra seseorang yang juga sedang
berduka. Seseorang yang juga kehilangan ayahnya dalam perang. Shikamaru Nara
semakin dekat dengan Ino Yamanaka.
Ino tidak
mengalihkan pandangannya dari makam ayahnya. Sampai saat Shikamaru duduk disisi
lain dari makam-berada dihadapan Ino, barulah Ino menoleh kearah pemuda Nara
itu perlahan. Dilihatnya Shikamaru menatapnya dengan mata yang sayu dan
mengantuk. Keduanya akan terus tatap-menatap kalau Shikamaru tidak memulai
pembicaraan.
“Menangis lagi?”
Untuk apa Shikamaru bertanya dengan pertanyaan yang sudah pasti Ia tahu
jawabannya? Bukankah hampir setiap sore Ino tertangkap basah oleh Shikamaru
saat sedang menangis di depan makam ayahnya? Kau membuang waktumu untuk
bertanya, Shikamaru!
Rasanya percuma
juga Ino menjawab pertanyaan Shikamaru. Ino memilih mengalihkan lagi
pandangannya. Dari Shikamaru, kembali ke makam di depannya ini.
“Kau tahu?”
Shikamaru mulai bicara lagi “Ayahmu tidak akan istirahat tenang kalau kau
menangisinya setiap hari” lanjutnya sambil memandang Ino yang tetap diam.
“Mendokusai na…
Sudah berapa kali aku mengatakan itu padamu?” Kata Shikamaru malas lalu
mengalihkan objek pandangannya ke langit.
Ino menghela nafas
pelan “Biar kutebak-“ Ino menatap Shikamaru yang masih setia memandang langit
lalu melanjutkan ucapannya “-Ibumu memaksamu kesini untuk menjemputku?”
Kali ini Shikamaru
ikut menatap Ino lalu mengangguk.
“Kalau menjemputku
itu merepotkan, kenapa kau tetap menjemputku eh?” Tanya Ino heran.
Shikamaru mendesah
“Lebih merepotkan lagi kalau ibuku mengomel nantinya.”
“Hhe...” Ino
tertawa kecil. Ia juga cukup lelah mengumbar kesedihannya ini di depan
Shikamaru. Paling tidak, Ino ingin Shikamaru merasa kalau dirinya baik-baik
saja. Meski itu bukan faktanya.
Perlahan,
rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Benar ‘kan? Sejak tadi langit memang
ingin menangis.
Shikamaru bangkit
dari duduknya. Ia tahu kalau tak lama lagi, hujan yang turun akan semakin
deras. “Ayo pulang” ajaknya pada Ino.
“Aku masih ingin
disini sebentar lagi, Shikamaru.” Ujar Ino pelan.
Shikamaru cepat
menoleh pada Ino “Ck, ayolah Ino” desis Shikamaru sembari memberikan sebelah
tangannya pada Ino.
Ino melirik tangan
Shikamaru lalu tersenyum “Kau pulanglah duluan” lalu kembali mengalihkan
pandangannya.
Sementara itu,
hujan turun makin deras. Shikamaru maupun Ino sudah terguyur hujan. Lagi-lagi
Shikamaru mendesah melihat Ino yang bersikeras tidak mau pulang.
Ino sendiri
sedikit berterimakasih pada hujan. Ia bisa mengeluarkan seluruh air matanya
dalam diam tanpa harus ketahuan siapapun. Air hujan bercampur dengan air
matanya.
Merasa ada yang
aneh, Ino melihat kearah depan. Air hujan masih turun. Yang aneh adalah-kenapa
air hujan tidak lagi membasahi kepalanya? Ino mendongak. Matanya bertemu dengan
netra kelam Shikamaru. Tangan kanan pemuda itu tenggelam dalam saku celananya.
Sementara tangan kirinya sibuk memegangi payung coklat yang cukup besar.
“Nanti kau sakit,
Ino.” Bujuk Shikamaru lagi. Pemuda itu meraih pergelangan tangan Ino dan
menariknya. Membuat Ino terbangun dari duduknya. Mata keduanya masih terikat
satu sama lain. Tidak lagi saling tatap, saat Shikamaru menarik tangan Ino
untuk pergi menjauh dari makam. Ino hanya mengikut saja.
“Kenapa kau selalu
peduli padaku? Apa hanya karena tuntutan ibumu?” Tanya Ino pelan.
“Bisa
dibilang-iya” Jawab Shikamaru tanpa menoleh dan menghentikan jalannya. Ino yang
mendengar jawaban Shikamaru, sedikit kecewa. “Tapi… tidak juga sih” lanjut
Shikamaru. Ino menatap punggung mantan leader timnya “Aku peduli padamu,
memang karna aku peduli padamu.”
Ino tersenyum.
“Dibilang
tuntutan-iya. Dibilang karena itu keinginan ku-juga iya” Shikamaru masih
menyusuri jalan setapak. Namun, kepalanya bergerak untuk menoleh kebelakang.
Lalu tersenyum lembut.
Seketika wajah Ino
menghangat. Perasaan ini muncul lagi!
Shikamaru terus
berjalan dan tidak lagi menatap Ino “Tuntutan ya…” gumam Shikamaru. “Kalau
setiap tuntutan yang aku kerjakan digaji, aku pasti jadi kaya.”
Ino keheranan
namun memilih diam. Menunggu lanjutan Shikamaru. “Asuma-sensei, Ibuku,
Ayahmu, bahkan Ayahku menitipkanmu padaku. Bingung juga sih, kenapa kau harus
dititipkan. Kau kan bukan barang.”
Dibelakang
Shikamaru terdengar suara kikikan kecil dari Ino. Shikamaru tidak
menanggapinya. Dia justru berucap kembali “Asuma-sensei ingin aku menjagamu dan
Choji. Ibuku ingin aku menemanimu setiap saat setelah tahu kalau Ayahmu-“
Shikamaru spontan menghentikan ucapannya. Ia dengan cepat berbalik untuk
melihat keadaan Ino. Bodohnya dia! Setelah ayahnya tewas, Ino sedikit murung
jika ada orang yang mengungkit perihal kematian Ayahnya.
Dan benar saja,
yang Shikamaru lihat saat ini adalah Ino menundukkan kepalanya dalam. “Ino?”
ucap Shikamaru. Dan diluar dugaan Shikamaru, kini Ino mendongakkan kepalanya
dengan senyum manis terpampang diwajahnya.
“Kenapa,
Shikamaru?”
“Aku tidak
bermaksud-“
“Tak apa” kilah
Ino cepat. “Aku tau yang ingin kau katakan.”
“…”
“Oh iya. Kapan
ayahku memintamu untuk menitipkanku padamu?”
Shikamaru menghela
nafas pelan. Tangannya masih menggenggam tangan Ino. Pemuda itu berbalik dan
siap melangkah lagi. “Sebelum perang dimulai…” tangan Shikamaru menggenggam
tangan Ino lebih erat. “Sebelum perang dimulai, ayahku dan ayahmu ingin aku
menjagamu apapun yang terjadi saat perang.”
Ino yang sadar
bahwa genggaman Shikamaru makin erat, justru membalas genggaman hangat
tersebut. Membuat aura Ino menghangat.
“Mereka berdua
juga menyatakan sesuatu padaku. Ayahku dan ayahmu ingin berbesan setelah perang
berakhir.” Ino yang mengerti apa arti ucapan Shikamaru, sedikit tersentak.
“Khe… aku
menganggap itu hanya gurauan. Saat itu aku bilang pada mereka kalau aku akan
merespon permintaan itu setelah perang usai. Tapi yang terjadi justru diluar
dugaan. Aku belum sempat menyatakan kalau aku menyetujui permintaan mereka.
Yah… aku sedikit menyesal”
Ino sedikit
merenung. Penyesalan. Penyesalan memang selalu berada diakhir ‘kan?
Tunggu dulu! Apa
tadi Shikamaru bilang ‘berbesan’? Ayahnya dan Ayah Shikamaru ingin berbesan?
Itu artinya ‘kan-
Dan apa tadi?
Shikamaru menyetujui apa? Penawaran Ayahnya? Arrrgh, apa maksudnya?! Apakah
Shikamaru ingin-
Daripada Ino
gelisah berfikir, gadis Yamanaka ini memilih untuk bertanya apa maksud
perkataan pemuda Nara itu sebenarnya.
“Um… maksudnya
berbesan itu… ayahku ingin-“
“Ayahmu ingin kita
bersanding, Ino” Potong Shikamaru pada ucapan pelan Ino tadi. “Bukan. Bukan
hanya ayahmu. Ayahku dan Ibuku juga berharap seperti itu.”
Lagi. Lagi-lagi
Ino merasakan kehangatan. Tapi bukan digenggaman Shikamaru. Melainkan, kini,
kehangatan itu menjalar pada hatinya. Ino tersenyum lembut.
“Lagi-lagi harus
kukatakan. Kalau aku benar-benar menyesal tidak menjawab penawaran mereka pada
saat itu juga. Paling tidak, ayahku dan ayahmu bisa tersenyum lega karena
jawabanku diatas sana.” Lanjut Shikamaru panjang sambil memandang langit yang
entah sejak kapan tidak lagi menangis. Hujan sudah reda rupanya.
Senyum manis masih
menghiasi wajah cantik Ino. Mendadak Shikamaru melepaskan genggamannya pada
Ino. Shikamaru menutup payung coklat yang sedari tadi melindungi mereka berdua
dari air hujan. Ino segera mensejajarkan langkahnya dengan Shikamaru.
“Sejak dulu,
ayahku ingin aku memperkenalkan pemuda pilihanku padanya” tiba-tiba Ino
berbicara “Tapi karna aku memang belum mempunyainya, aku belum bisa
memperkenalkannya.”
Shikamaru setia
mendengarkan pembicaraan Ino “Sekarang, aku sudah mempunyai pemuda pilihanku.
Tapi aku menyesal belum memberi tahu ayahku soal ini.”
“Sebenarnya, aku
mempunyai banyak waktu untuk memberitahukan ayahku, tapi aku malu.” Ucap Ino
yang kini mengalihkan pandangannya. Tak lupa rona merah tipis menghiasi pipinya.
“Hm…”
“Dan setelah kau
bicara soal ayahku tadi, penyesalanku semakin bertambah” tambah Ino.
“Kau tahu apa
itu?” Kini Ino memandang Shikamaru yang sejak tadi tidak mengalihkan
pandangannya dari jalan setapak yang mereka lewati.
“Kau belum
memperkenalkan pemuda itu pada ayahmu?” Tebak Shikamaru.
“Yang lain!”
“Ayahmu belum
melihatmu menikah, belum melihatmu memiliki anak?“
“Ya itu juga. Tapi
bukan itu maksudku!”
Shikamaru yang
merasa tidak mendapatkan jawabannya, menoleh pada Ino yang masih menatapnya.
Shikamaru memasang raut wajah tidak mengerti dan meminta jawaban.
“Aku belum bilang
pada ayahku, kalau perasaanku terbalaskan. Lagipula, aku sangat yakin, jika
Ayahku tahu siapa pemuda yang aku maksud, Ia pasti sangat senang. Terlebih
lagi, saat kau bilang, ayahku dan ayahmu ingin berbesan.” Kata Ino jelas tanpa
malu-karna secara tidak langsung, Ino mengungkapkan perasaannya.
Shikamaru yang
mengerti maksud perkataan Ino pun, hanya tersenyum tipis. Tangan kirinya yang
terbebas dari payung coklat yang kini ditangan kanannya, meraih tangan Ino.
Menggenggamnya erat.
Ino sendiri tidak
protes atau kaget, mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Shikamaru itu. Tapi Ino
memilih untuk melepaskan genggaman Shikamaru dan justru merengkuh lengan kiri
pemuda jenius itu.
Senyum Shikamaru
mengembang perlahan. Jangan lupakan senyum manis yang masih ada di wajah Ino.
Oh, juga senyum perasaan lega dari kedua ayah mereka yang sejak tadi,
mendengarkan pembicaraan pemuda berambut nanas dan gadis pirang berpony tail.
─nianara
Tidak ada komentar :
Posting Komentar