Aku berlari menyusuri koridor sekolah
guna sampai dikelas untuk menemui sahabatku. Beberapa kali menabrak teman
seangkatanku atau malah kakak kelasku tidak membuatku menghentikan langkahku.
Meskipun aku memilih berhenti sebentar sekedar untuk meminta maaf pada
orang-orang yang telah kutabrak.
Sampai pada tempat tujuanku, aku
bergegas mencari si kepala pink sahabatku. Lalu berlari menuju meja terakhir
didekat jendela, setelah tahu sahabatku sedang membaca sebuah buku disana.
“Sakuraaaa!” tak peduli apa yang akan
dia lakukan setelah aku berteriak kearahnya, aku tetap berlari lalu menggebrak
meja setelah sampai dihadapan pinky ini.
Yang aku lihat adalah raut wajah tidak
suka dari Sakura. Oke, aku maklumi itu. Karena, dia memang tidak suka jika dia
mendapat perlakuan yang menurut dirinya kasar seperti tadi.
Sakura menghela nafas kasar “ bisakah
kau tidak berteriak dan menggebrak meja setiap bertemu aku dikelas? Kebiasaanmu
buruk sekali, Ino.”
“Kau belum tau kan kalau sedang ada diskon
besar-besaran di Mall baru itu? Kita harus kesana Sakura! Bagaimana kalau
minggu ini?” seakan tidak terjadi apa-apa, aku mengalihkan pembicaraan. Berita
inilah yang membuatku bergegas berlari dari kantin menuju kelas.
“Ck, terserah kau saja” Sakura kembali
berkutat dengan buku-entahlah, aku tidak tahu dan tidak tertarik untuk mencari
tahu.
Mengetahui sahabatku terlihat
mengacuhkanku, aku cemberut “Ah, tapi aku sedang ingin ke taman ria yang juga
baru itu” dan terus berbicara hal yang kusebut ‘berita bagus’.
“Huh?”
“Katanya kita akan dapat potongan 50
persen jika kita datang ke taman ria itu bersama pasangan. Sayang aku belum
punya pasangan” aku terus melanjutkan percakapan-yang tidak bisa dibilang
percakapan, karena hanya aku yang berbicara sejak tadi. Namun terhenti setelah
mendengar seseorang meneriaki-ku dari belakang.
“Arrgghhh! Bisakah kau diam?!” jelas
saja langsung kucari siapa si pelaku. Dan kutemukan si
kepala-nanas-pemalas-namun-jenius dikursi paling belakang dengan wajah tampak
kesal.
Aku memicingkan mata kearahnya “Apa
masalahmu?!” kataku setengah berteriak.
Shikamaru mendesah kasar “Masalahku
adalah aku tidak bisa tidur karena mulutmu yang cerewet itu terus berbicara.”
Merasa tertantang, aku melangkahkan
kaki menuju meja dimana Shikamaru berada. Berdiri dihadapannya dan berkacak
pinggang “Kalau kau merasa terganggu dengan suaraku, kau bisa pindah ketempat
lain kan?!”
“Ck, bodoh. Jelas-jelas aku berada
disini sejak sebelum kau berada dikelas”
“Hei, kelas ini bukan punyamu kan?” balasku
tak mau kalah. Apalagi setelah dia mengataiku bodoh.
“Mendokuse…!” setelah kudengar
kata pamungkasnya keluar, kulihat dia mulai menutupi wajahnya dengan tangannya
yang dilipat didepannya lalu menjatuhkan kepalanya dimeja. Mau tidur lagi atau
yang tepatnya-mau mengacuhkanku eh?.
Tidak terima diacuhkan, aku menggebrak
mejanya. Kontan saja itu membuat pemuda cerdas ini terkejut lalu mendelik tajam
kearahku “Sebenarnya apa maumu?!” ucapnya, tidak terima kalau aku mengganggu
rutinitas favoritnya.
“Kau mengacuhkanku, aku tidak suka itu.
Dan… urusan kita belum selesai” ucapku sedikit tersenyum melihatnya seperti
orang frustasi.
“Pasangan bodoh. Setiap hari kerjaannya
hanya bertengkar. Jadi suami-istri kok tidak pernah akur sih.”
“Hei Shikamaru, jangan omeli istrimu
terus.”
“KAMI BUKAN SUAMI ISTRI!!!” ucapku dan
Shikamaru reflek secara bersamaan sambil memberikan tatapan membunuh kepada
duo-aneh yang langsung mengambil langkah seribu. Cih, yang benar saja…
suami-istri? Naruto dan Kiba bodoh!
shikaino
“Ck, Shikamaru bodoh. Kau lihat
tadi? Dia langsung pergi begitu saja. Padahal kan sudah kubilang kalau masalah
tadi itu belum selesai” cerocos ku pada Sakura yang duduk manis di depan
ku, mendengarkan keluhanku.
Sakura meminum jus jeruknya “Kalian ini
tidak lelah? Setiap hari bertengkar seperti itu? Padahal, kau dan Shikamaru kan
teman sejak kecil. Agak aneh, teman-atau malah sahabat yang setiap hari tidak
pernah akur.”
Ucapan Sakura membuatku diam seribu
bahasa dan memilih untuk meminum susu strawberry yang sejak tadi
terlupakan.
Dan… yah. Yang dikatakan Sakura tadi
benar. Aku dan Shikamaru memang teman sejak kecil. Bukan hanya Shikamaru, tapi
juga pemuda tambun yang sering terlihat bersama Shikamaru, yaitu Choji. Bahkan,
dulu aku sering mengklaim kalau mereka adalah sahabatku. Tetangga, teman
belajar, dan orang tua kami yang memang dekat membuat aku, Shikamaru dan Choji
dikenal sebagai sahabat dekat.
“Setahuku, kau tidak pernah bertengkar
dengan Shikamaru, Ino” Kata Sakura membuyarkan lamunanku. “Ada apa sebenarnya?”
lanjutnya.
Oke, aku jadi bernostagia. Aku memang
lahir dan besar di Jepang, namun keluargaku pindah ke Jerman saat aku lulus
Sekolah Dasar. Dan sebulan yang lalu, aku kembali ke Jepang dan langsung
sekolah disini. Aku memilih sekolah ini karena aku tau, bahwa teman-temanku
juga bersekolah di SMA Konoha ini. Khususnya Shikamaru dan Choji.
Saat sampai di Jepang, dengan kerinduan
yang sangat, aku langsung menemui Shikamaru setelah bertemu dengan Choji
sebelumnya. Aku bertanya padanya, apakah dia merindukanku selama di Jerman. Dan
respon Shikamaru benar-benar membuat ku naik darah. Dia hanya melirikku dengan
mata mengantuknya dan berbicara dengan santainya “Haruskah?” Padahal,
aku sudah terang-terangan mengatakan kalau aku sangat merindukannya. Grr…
Shikamaru menyebalkan!
Dan setelah kejadian itu, aku sering
sekali marah pada Shikamaru karena dibuat kesal olehnya.
“Ino!” sekali lagi, Sakura membuat ku
tersadar. “Kau ini kenapa bengong sih?.”
Aku sendiri hanya nyengir “Maaf. Aku
hanya tidak habis fikir. Shikamaru itu menyebalkan ya? Kenapa dia selalu
mengganggu ku sih. Aku jadi ragu dengan duplikat jeniusnya. Dia itu bodoh!”
“Begitu ya.”
Dengan gerakan patah-patah, kutengokkan
kepalaku ke belakang. Shikamaru dengan tampang yang… uh menyebalkan, ada
dihadapanku “Kenapa huh?” tantangku.
Setelah itu, kejadian yang berlangsung
membuat ku kaget. Shikamaru menarik pergelangan tanganku. Jelas saja aku
meronta. Dia menarikku menjauh dari kantin dan meninggalkan Sakura yang mungkin
kebingungan.
“Lepas!” rintihku. Kupukul tangannya
yang mencengkram tanganku.
“Shikamaru , lepaskan…!”
Selama Shikamaru menyeretku, aku terus
menjerit tidak jelas. Aku bahkan tidak peduli dibawa kemana aku. Yang penting
aku bisa melepaskan tangan Shikamaru ini dari tanganku. Sungguh, genggamannya
ini terlalu kencang. Sakit…
Kejadian selanjutnya adalah Shikamaru
melepaskan cengkramannya. Namun tangannya membekap mulutku, dan itu membuatku
menutup rapat mataku. Aku tidak tau Shikamaru bisa seperti ini. Oke, aku takut
sekarang.
“Jadilah pacarku.”
Eh, apa maksudnya? Aku membuka mataku
yang membulat karena ucapan singkatnya. Shikamaru menarik tangannya yang
membekap ku tadi. Aku menunduk sebentar “Maaf, kau bukan tipeku Shika.”
“Bodoh! Pura-pura saja.”
“P-pura-pura?”
Shikamaru menghela nafas, “Dengarkan aku.
Kau pasti tahu Sasuke kan?” aku spontan mengangguk mendengar pertanyaan
Shikamaru.
Tentu saja aku tahu Sasuke, dia itu
pangeran sekolah. Aku sendiri sempat menyukainya. Tapi, tidak lagi karena aku
merasa dia tidak akan membalas perasaanku.
“Sepertinya dia menyukai
temanmu-Sakura” dan ucapan Shikamaru benar-benar hampir membuatku jantungan.
“Sasuke selalu memperhatikannya. Tapi, kau tau kan, Uchiha. Gengsinya setengah
hidup. Dan aku ingin membantu Sasuke untuk lebih dekat dengan Sakura.”
Sepertinya aku tidak bisa menolak.
Sakura menyukai Sasuke. Dan mendengar ini, Sakura pasti senang sekali.
Lagipula, aku juga bisa membantu Sakura.
“Oke!”
shikaino
“Sakura, kami berdua sudah jadian lho.
Pulang berempat yuk.”
Itu tadi memalukan, aku tau. Tapi mau
bagaimana lagi. Shikamaru itu orangnya tidak banyak ngomong. Aku sendiri jadi
bingung bagaimana memberi tahu Sakura hal ini.
Dan karena biasanya Shikamaru pulang
dengan Sasuke, sementara aku biasa pulang dengan Sakura, ini bisa dijadikan
kesempatan.
“Ayo pulaaaang!” ucapku kelewat
berlebihan. Ukh.
“Kalian betul jadian?” suara polos
Sakura sukses membuat ku dan Shikamaru membatu sebentar.
Cepat-cepat aku bersikap biasa.
“T-tentu saja. Kau ini bicara apa sih Sakura?”
“Tidak terlihat seperti orang pacaran”
Sakura jeli sekali!
“Masa sih…” kata Shikamaru pelan. Aku
melirik kearahnya.
Tiba-tiba Shikamaru mengalungkan
lengannya di belakang kepalaku. Jari-jarinya bergerak-mendorong pipiku agar
wajahku berhadapan dengan Shikamaru. I-ini diluar skenario…!
Deg! Kedua tanganku menahan tubuh
Shikamaru untuk tidak terlalu dekat denganku. Bertahun-tahun kenal dengan
Shikamaru, aku tidak pernah melihat wajahnya sedekat ini.
“Kau tidak percaya? Kami pacaran kok”
ujar Shikamaru tenang. Kepalanya menoleh kepada Sakura. “Hehe, iya. Yasudah,
ayo pulang” Sakura dan Sasuke kubiarkan berjalan agak jauh didepan.
Syukurlah Sakura tidak lagi curiga. Ini
berkat Shikamaru. Walaupun itu tadi tidak bisa kuterima. Ck, Shikamaru tetap
menyebalkan.
Mendadak sebuah tangan terulur
kearahku. Tangan Shikamaru.
“Eh?” aku menatapnya keheranan.
Shikamaru memutar bola matanya. Dengan cepat, dia menggandeng tanganku. Kontan,
aku sedikit tersentak.
“Kau mau dicurigai lagi oleh Sakura?”
benar juga. Bagaimanapun juga, aku harus siap seperti ini. Huh…
“Mana nomormu. Kita bertukar nomor
ponsel.”
“Eh?”
“Tidak ada jawaban lain selain ‘eh’
hah?” sewot Shikamaru.
“Hanya saat kita pura-pura pacaran.”
“Baiklah.” Dan ini fakta kedua. Aku
mengenal Shikamaru seumur hidupku, namun aku tidak pernah bertukar nomor ponsel.
Yaaa, karena menurut Shikamaru, ini merepotkan. Dan menurutku, aku dan dia
tetap bisa menjaga komunikasi tanpa harus lewat ponsel.
shikaino
Seminggu berlalu. Seminggu juga aku
sudah melakukan rencanaku dengan Shikamaru. Sakura dan Sasuke juga terlihat lebih
dekat sekarang. Selama ini, kami berempat selalu pulang bersama dan saat jam
istirahat pun, dikantin bersama. Saat ini pun sama, liburan ke Taman Ria
berempat.
“Sakura, kau duduk dengan Sasuke ya.
Kau tahu kan kalau aku dan Shikamaru ingin berduaan” ucapku pada Sakura dan
Sasuke sambil mengerling nakal saat ingin pergi ke wahana kincir raksasa.
Dan sekarang, kami berempat sudah naik
kincir raksasa. Dengan Sakura dan Sasuke yang terlebih dulu naik. Sehingga, aku
dan Shikamaru dapat melihat mereka dari belakang.
“Ah, sepertinya mereka semakin dekat
ya” ucapku mengintip Sakura dan Sasuke dari bianglala yang kutumpangi bersama
Shikamaru. Melihat Sakura tersenyum manis kepada Sasuke membuatku lega.
“Oh ya. Apalagi yang harus kita lakukan
setelah Sasuke sukses, Shika?” tanyaku pada Shikamaru. Aku bergerak untuk duduk
disebelahnya. Bianglala masih berjalan.
“Hm, apa ya?” Shikamaru hanya bergumam.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Ah
iyaya. Berarti kita juga tidak perlu pura-pura pacaran lagi” dan entah mengapa,
aku mersa Shikamaru sedikit tersentak dengan ucapanku.
“Maaf, Ino. Padahal kita selalu
bertengkar, sekarang kita malah terlihat berdua terus. Aku tau kau tidak suka.
Tapi… terimakasih sudah mau membantuku.”
“Tidak apa-apa kok. Lagipula, kau kan
juga tidak menyukai ini. Bukankah kau membenci ku?” Shikamaru menatapku. “Kita
impas kan. Dan lagi, aku disini juga untuk membantu Sakura kok. Aku juga
berterimakasih padamu” aku tersenyum pada Shikamaru. Aku sendiri bingung kenapa
aku tersenyum kepadanya.
Entah kenapa, aku merindukan moment
berdua bersama Shikamaru seperti ini. Seperti déjà vu, sejak kecil aku dan
Shikamaru sering sekali naik wahana ini.
Aku mengalihkan pandanganku keluar,
“Ah, kita sudah hampir sampai” aku bangkit dari dudukku, namun gerakanku terhenti
saat merasakan genggaman di pergelangan tanganku. Siapa lagi kalau bukan tangan
Shikamaru.
“Aku… tidak membencimu.”
Tubuhku membeku sesaat. Aku bingung
sekarang “A-apaan sih!” aku menghempaskan tangan Shikamaru “Kau bahkan sama
sekali tidak merindukanku saat aku ada di Jerman” ucapku emosi.
“Kau kesal padaku karena itu?” kata
Shikamaru tenang, dia menatap mataku.
Sekarang aku kembali bingung. Ya. Aku
kesal karena dia tidak peduli padaku saat aku di Jerman. Tapi kenapa aku kesal?
S-sebenarnya kenapa aku ini?
“A-aku−“ ucapanku terhenti sempurna
setelah kurasakan Shikamaru menarikku kedalam pelukannya. Jelas saja aku kaget
setengah mati.
“Sh−shikamaru…”
“Aku tidak bermaksud mengacuhkanmu saat
kau kembali ke Jepang. Aku sendiri sebenarnya senang kau telah kembali. Tapi,
kau tau aku seperti apa, Ino. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan apa yang aku
rasakan” ujar Shikamaru panjang. Aku masih mencari kesadaranku.
Shikamaru menelungkupkan tangannya
dikedua pipiku. Wajahnya terlalu dekat! Kini dia menatapku intens “Aku tidak
pernah membencimu, Ino” bisiknya.
Ya Tuhaaaaan… wajahnya semakin dekat.
Aku sendiri hanya pasrah. Walau, aku yakin, wajahku sedang panik saat ini.
Grakkk
Shikamaru langsung mengambil jarak
setelah petugas bianglala membuka pintu bianglala. Kincir raksasa ini sudah
berhenti. Sudah waktunya turun rupanya. Wajahku masih tersipu hebat karena
kejadian tadi. Shikamaru, kau… menyebalkan.
shikaino
Tenang Ino. Tenang. Dinginkan kepalamu.
Anggap itu tidak pernah terjadi. Aaa… aku tidak bisaaa. Shikamaru bodoh. Kau
sudah membuatku seperti ini!
Aku terlihat seperti orang gila saat
ini. Aku mengacak rambutku kasar. Wajahku tidak karuan. Oke, aku masih sadar
ini ditempat umum. Jadi, secepat mungkin kurapikan riasanku.
Pandanganku terhenti saat melihat Sasuke
duduk dikursi taman sendiri. Aku mendekat kearahnya, “Dimana Sakura, Sasuke?”
tanyaku.
Sasuke menoleh kepadaku, “Ke toilet.
Mana Shikamaru?”
“Beli minum” Jawabku singkat.
Kududukkan diriku disebelah Sasuke. Menikmati pemandangan taman ria ini.
“Ino…” Sasuke bersuara tiba-tiba. Aku
menoleh kearahnya.
“Kau benar pacaran dengan Shikamaru?”
Ketahuan kah?
Lagi-lagi, aku memilih mengalihkan
pandanganku, “Harus bilang berapa kali sih. Kau tidak percaya ya?” ucapku
diselingi kikikkan kecil.
“Aku… menyukaimu sih.”
Deg.
Aku menatap Sasuke tidak percaya. “Aku
selalu memperhatikanmu, Ino” ujar Sasuke. Jadi, selama ini, bukan Sakura yang
diperhatikan oleh Sasuke. Tapi… aku. Aku?
“Tenang saja, Sasuke” dan, oh… sejak
kapan Shikamaru ada disini? “Aku dan Ino hanya pura-pura. Kukira kau menyukai
Sakura. Makannya aku pura-pura pacaran dengan Ino agar kau bisa dekat dengan
Sakura.”
“Ino bukan pacarku.”
Kenapa sakit? Ini sakit sekali…
Shikamaru dapat mengatakan kalau aku bukan pacarnya dengan lancar. Dia bilang
begitu dengan jelas. Aku kenapa?
“Benar, aku tidak butuh pacar seperti
Shikamaru” bodoh! Bukan itu yang ingin kukatakan.
“Shikamaru, hapus nomor ponselku
sekarang” kataku. Tangan ku terulur, seolah meminta ponselnya. “Kau janji akan
menyimpannya selama pura-pura pacaran kan?” tambahku.
“Oke. Tapi, ini merepotkan. Kau bisa
menghapusnya sendiri, nih” Shikamaru menyodorkan ponselnya kearahku. Aku
mendekat kearahnya bermaksud untuk meraih ponselnya. Tapi, dia justru
mengangkat ponselnya tinggi –tinggi. Aku yang lebih pendek darinya, tidak bisa
menggapainya.
Aku tidak bisa menggapai ponselnya. Aku
bahkan tidak bisa menggapai perasaanku. Perasaanku… pada Shikamaru.
“Sini, Shika!”
“Ambil sendiri.”
“Aku tidak sampai.”
Aku tidak mengerti. Aku meneteskan air
mata sekarang. Pertahananku runtuh. Ya. Aku sadar sekarang. Aku mencintai
Shikamaru.
“Kenapa malah main-main sih! Kemarikan
ponselmu!” omelku. Bulir air mata masih turun. Yang aneh, aku juga melihat
wajah tidak terima dari Shikamaru.
Tiba-tiba Shikamaru menabrakku.
Bibirnya bersentuhan dengan bibirku. Jantungku berdegup kencang. Tidak pernah
sekencang ini. Apa yang dia lakukan? Shikamaru… kau membuatku kacau!
“Sudah jelas kan? Aku tidak bisa
menghapus nomor ponselmu. Itu karena aku menyayangimu, Ino. Perasaan yang
kurasakan ini perasaan lebih dari sahabat, kau mengerti kan?” ujar Shikamaru
setelah melepas tautan bibirnya.
“S-suaramu terlalu kencang, bodoh…”
bisikku. “Tapi, terimakasih. Aku juga menyayangimu…” Lagi-lagi Shikamaru
memelukku. Aku hanya membalas perlakuannya. Begini ya rasanya jatuh cinta?
“Akhirnya mengaku juga.”
“…”
“…”
“Sudah beres, Sakura” Eh?
Sakura muncul dari balik tembok
bangunan yang ada disebelah taman secara tiba-tiba “Shikamaru sudah mengaku?”
“Ya, begitulah.”
“Ng, kalian bicara apa?” ucapku pelan kebingungan.
“Kalian tidak tahu kan? Aku dan Sasuke
sudah jadian dua hari yang lalu. Dan kami berdua sadar kalau kalian hanya
pura-pura pacaran. Terlihat jelas kok, kalian tidak mesra seperti orang
pacaran” kata Sakura menghampira Sasuke. Aku dan Shikamaru sejak tadi diam. Aku
memang tidak punya bakat akting ya?
“Jadi, Sasuke tidak benar-benar
menyukaiku ya?” ucapku dengan maksud candaan. Tapi, sepertinya, Sakura
menanggapi ucapanku, “Bodoh, Sasuke-kun sudah jadi milikku, Ino. Dia tidak
mungkin menyukaimu!”
Aku hanya tertawa dalam hati. Sakura
tidak pernah berubah jika bicara soal Sasuke. “Santai saja, Sakura. Aku hanya
bercanda kok” kataku sambil terkikik kecil.
“Huh, tetap saja!” Sakura menatapku dan
Shikamaru bergantian, “lagipula… kau sudah ada yang punya, Ino.”
Shikamaru melingkarkan tangannya di
pinggangku. Responku adalah menatapnya tajam. Tapi Sakura maupun Sasuke justru
tertawa. Mungkin mereka senang melihat pasangan baru ini. Ckck.
“Kami duluan ya.” Kata Sasuke singkat
dan menghilang bersama Sakura dibalik kerumunan pengunjung taman.
“Mereka sudah jadian dua hari yang
lalu. Kalau begitu, untuk apa kita masih pura-pura tadi.”
“Biarkan saja. Toh, kalau tadi kita
tidak pura-pura, aku tidak mungkin menciummu.”
Oke, kurasa cukup. Ucapan Shikamaru
ditambah senyum anehnya yang terakhir itu membuatku takut. Dan sekarang, aku
juga tahu satu hal yang tidak kuketahui dari Shikamaru selama aku mengenalnya.
Pemuda ini berbahaya!
─nianara
Tidak ada komentar :
Posting Komentar