Awan berarak kesana kemari. Beberapa kali
mereka terbang tak tentu arah karena angin yang memaksa mereka bergerak. Warna
birunya menenangkan hati siapapun yang melihatnya. Termasuk pemuda yang satu
ini. Pemuda bermarga Nara dengan rambut yang terikat satu ini memang menyukai
warna biru sejak dulu. Pertama, karena Shikamaru memang manyukai langit. Dan
kedua, karena Ino. Sahabat yang juga merangkap sebagai kekasih hatinya.
Bicara soal warna biru, biru melambangkan
sesuatu yang sejuk dan segar 'kan? Jadi tidak salah jika ia mengartikannya
kepada Ino-si kekasih hati dengan iris biru langit- dan langit itu sendiri.
Namun, ketika biru digunakan untuk
menggambarkan sebuah perasaan, maka presepsi yang muncul adalah perasaan sendu.
Hari ini memang hari biru untuk Shikamaru.
Hari sendu untuknya. Untuk mendiang ayahnya juga mendiang 'calon' mertuanya.
Tak terasa satu tahun terlewatkan sejak
perang berakhir. Berakhir dengan meninggalkan luka yang masih membekas dan
mungkin… tidak akan pernah bisa hilang. Satu hal lagi yang membuat atmosfer
biru sendu melekat di hari yang cerah ini. Hari ini adalah hari ulang tahun
Nara Shikaku-orang yang paling berharga bagi Shikamaru selain ibunya.
Kesampingkan kesedihannya. Fokus kepada
tujuannya berada dihutan Nara sekarang. Limabelas menit sudah ia menunggu
seseorang. Bosan dengan posisinya, Shikamaru bergerak untuk berdiri lalu keluar
dari kawasan hutan. Beruntung Ino dan Choji-orang yang sedari tadi ditunggunya-
menampakkan dirinya. Jadi ia tidak perlu repot menjemput mereka berdua-seperti
niatnya keluar dari hutan tadi.
"Hai, Shikamaru!" sapa Ino riang.
Gadis itu melambaikan tangannya. Dibelakangnya, Choji tersenyum mengikuti
langkah Ino menghampiri Shikamaru.
Shikamaru balas tersenyum kepada dua
sahabatnya, "mendokuse, lama
sekali?" tanyanya pura-pura jengkel. He, ini bukan Shikamaru…
"Ngambek? Yaampun, mana Shikamaru yang
asli! Shikamaru tidak akan marah kalau hanya disuruh menunggu selama limabelas
menit!" gertak Ino saat sampai dihadapan Shikamaru. Jari kecil Ino
bergerak untuk mencubit pipi Shikamaru. Membuat yang dicubit, menggerutu
sesaat.
Choji tertawa renyah melihat tingkah kedua
sahabatnya, "maaf membuatmu menunggu, Shikamaru."
"Hn, tidak apa-apa" jawab Shikamaru
yang masih meringis kesakitan karena cubitan dari Ino.
"Ne,
kita berangkat sekarang yuk!" ajak Ino sambil mengamit lengan kekasihnya.
Jadilah mereka mulai berjalan menjauhi hutan
Nara. Dan menuju pemakaman para shinobi.
shikaino
Ino membuka matanya perlahan. Punggung
tangannya mengusap aliran air mata dipipinya. Selalu seperti ini. Menangis
setelah berdoa ditempat peristirahatan terakhir ayahnya. Padahal ia selalu
berusaha untuk tegar. Untuk tidak menangisi ayahnya yang mungkin sudah tenang
disana. Tapi Ino tetap tidak bisa menahan tangisannya tiap kali datang ke makam
ayahnya.
Gadis Yamanaka itu menoleh pada Shikamaru dan
Choji yang bersimpuh didepan makan ayah Shikamaru. Tangan mereka terkepal
didepan dada dan mata mereka pun terpejam. Shikamaru dan Choji sedang berdoa.
Sebelumnya, Shikamaru dan Choji sudah
mendoakan Inoichi. Sekarang, Ino bergerak untuk ikut bersimpuh didepan makam
Shikaku. Melakukan hal yang sama seperti kedua sahabatnya-mengepalkan kedua
tangan dan memejamkan mata-lalu mulai memanjatkan doa.
Sama halnya dengan doa yang ia panjatkan
untuk ayahnya, Ino juga berdoa agar Shikaku tenang di alam sana dengan ayahnya.
Selesai. Ino membuka matanya perlahan, dan
sedikit terkejut mendapati Shikamaru dan Choji tengah memandangnya.
"Sudah selesai?" tanya Shikamaru.
Ino hanya mengangguk.
"Otanjoubi
omedetou ne Shikaku jii-san," Choji berucap sambil menaburkan
sedikit bunga di atas makam Shikaku. Ino dan Shikamaru tersenyum melihat Choji.
Ino menghembuskan nafas kencang lalu
mengangguk mantap, "Hm, otanjoubi
omedetou, paman!" ucap Ino.
Shikamaru hanya memandangi nisan ayahnya
sambil tersenyum. Selamat ulang tahun, ayah…
Ino menatap Shikamaru dan Choji yang berada
disisi lain dari makam bergantian. Sampai akhirnya, gadis itu benar-benar
menatap pemuda Nara yang telah mengisi hatinya. Ino bisa merasakan rasa
kehilangan dari satu tahun lalu di wajah Shikamaru. Ino tahu itu, Ino juga
mengerti bagaimana rasanya.
Kehilangan seorang ayah bukan hal yang dapat
kita lalui dengan mudah. Ino menyayangi ayahnya. Sangat. Saat tahu kalau
ayahnya pergi untuk selamanya, Ino kalut. Gadis itu bingung apa yang harus
dilakukannya setelah ia berpisah dengan ayahnya. Perang memang kejam.
Kesedihan Ino tidak berhenti disitu saja.
Setelah ia memberikan kabar duka tersebut kepada Ibunya, Ibu Ino mengalami
depresi berat. Nyonya Yamanaka sering terlihat melamun bahkan menangis sendiri
dikamarnya. A blue feeling.
Perasaan haru selalu menyelimuti hati Yamanaka Ino setelahnya.
Tapi sekarang semuanya berubah. Ibunya
terlihat lebih tegar sekarang. Berterimakasihlah pada Shikamaru dan Choji yang
dengan susah payah menghibur Ibunya-juga Ibu Shikamaru yang saat itu pun juga
tengah berduka. Entah dengan cara apa, kini Ibunya dan juga Ibu Shikamaru
terlihat lebih 'ringan'.
Tanpa sadar, Ino mengembangkan senyumnya
perlahan. Sialnya, kedua sahabatnya melihat hal itu.
"Kau kenapa Ino?" Choji angkat
bicara. Tatapan heran Choji dan Shikamaru mengarah padanya.
Ino malah merasa salah tingkah, "ah-ahaha…
Tidak ada apa-apa kok," ucapnya diselingi tawanya garing.
Shikamaru terkikik pelan, "sebaiknya kau
periksakan dirimu, Ino," canda Shikamaru. Choji yang mendengar, tertawa
hebat.
Ino menatap kekasihnya dengan wajah kesal,
"kau menyebalkan sekali sih!" pandangannya beralih kepada Choji yang
masih tertawa, "kau juga, Choji!" cerca Ino. Choji spontan menutup
mulutnya sendiri. Tapi tak berlangsung lama, tawa ketiganya pecah.
Biru. A blue
feeling datang lagi. Bukan biru haru. Melainkan perasaan biru yang
sejuk dan menenangkan.
shikaino
Choji melahap potongan Yakiniku terakhir dari
piringnya. Sepulang dari makam, Ino, Shikamaru dan Choji langsung menuju rumah
Shikamaru untuk merayakan ulang tahun Shikaku. Tradisi InoShikaCho, jika ada
hal-hal penting, ketiga keluarga bahagia itu pasti merayakannya dengan pesta
kecil-kecilan. Yaaaa, makan malam juga berkesan 'kan?
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ulang
tahun Shikaku selalu meriah walau hanya dihadiri oleh tiga keluarga yang
mengikat tali persahabatan tersebut. Makan malam bersama dan berbincang-bincang
setelahnya. Yang berbeda hanyalah, orang yang hadir lebih sedikit. Dan lagi, si
pemilik pesta absen dari pestanya.
Choji mencari Shikamaru setelah makan malam
usai. Biasanya, Shikamaru bersama Ino. Tapi Ino berada diruang tengah bersama
Ibunya dan Ibu Ino sendiri serta Yoshino yang sedang menangis.
Akhirnya Choji menemukan Shikamaru di halaman
belakang rumah dengan papan shogi beserta bidak-bidaknya yang telah tertata
rapi dihadapan Shikamaru. Biasanya, selesai makan malam bersama, Shikamaru dan
ayahnya selalu bermain shogi. Terkadang, Choji ikut bermain walau selalu kalah.
Perlahan-lahan, Choji mendekati Shikamaru dan
duduk didepan shogi-dihadapan Shikamaru.
"Kau baik-baik saja, Shikamaru?"
Choji memulai pembicaraan.
Terdengar helaan nafas pelan dari Shikamaru,
"ya, aku baik-baik saja," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari
shogi didepannya.
Choji berfikir sejenak. Dia tidak suka
keadaan Shikamaru yang seperti ini. Memang sih, selama ini Shikamaru tidak banyak
bicara. Tapi, keadaan haru dan kesedihan yang menyelimuti Shikamaru saat inilah
yang Choji tidak sukai.
"Apa… shogi ini hanya ditata saja?
Maksudku, kau tidak memainkannya?" Shikamaru menatap sahabat gembulnya
setelah mendengar pertanyaan darinya.
"Kau mencari lawan untuk bermain shogi?
Aku bisa!" ucap Choji penuh semangat. Shikamaru tersenyum tipis. Dan itu
membuat Choji merasa sedikit lega.
"Apa yang harus kulakukan kalau kau
menang?" tanya Shikamaru.
"Turuti kemauanku!"
Shikamaru menautkan kedua alisnya. Bingung
tentu saja. Biasanya Choji akan meminta Yakiniku porsi jumbo kalau ia dapat
menang bermain shogi-walaupun ia tidak pernah menang, dan tetap mendapatkan apa
yang ia inginkan.
"Kau harus menikahi Ino
secepatnya," ucap Choji tenang. Choji hanya ingin kedua sahabatnya
bahagia.
"Tanpa kau suruh, aku akan
melakukannya," kata Shikamaru.
"Duh, telingaku panas. Kalian
membicarakanku ya?" sambung Ino tiba-tiba. Gadis itu datang dari balik
pintu halaman dan segera mengambil posisi duduk di sebelah Shikamaru. Shikamaru
dan Choji tertawa mendengar penuturan Ino.
"Kalian berdua sedang bermain
shogi?" Shikamaru dan Choji mengangguk bersamaan, "yang menang harus
melawanku!" lanjut Ino.
"Siapa takut!" jawab Choji percaya
diri seolah ia akan menang.
Lagi-lagi Shikamaru tertawa. Entah sudah
keberapa kalinya.
Blue days. Perasaan haru, sendu, sejuk, tenang bahkan senang dirasakan
Shikamaru. Choji dan Ino juga tentunya. Lengkap sudah hari ini. Lebih lengkap
lagi jika Shikaku serta Inoichi hadir saat ini. Walau kita tahu, bahwa itu
mustahil.
─nianara