"Semuanya,
dengarkan aku"
Ino, Shikamaru dan Chouji menghentikan
gerakannya melawan musuh. Shikamaru memejamkan matanya sesaat. Mencoba meresapi
apa yang dikatakan ayahnya melalui jurus komunikasi dengan pikiran sebagai
perantaranya.
"Kalian
mengerti 'kan? pertama-tama, Ino-Shika-Chou!" ucap Shikaku
setelah menjelaskan seluruh rincian strateginya.
"Bagaimana kalau strateginya tidak
berhasil?" Tanya Shikamaru. Paling tidak, kita harus mempunyai beberapa
rencana untuk jaga-jaga 'kan?
"Tetaplah
hidup dan pandu mereka semua dengan kemampuanmu sendiri, Shikamaru!"
jawab Shikaku tegas. Shikamaru terbelalak sesaat setelah sadar dengan apa yang
didengarnya. Itu tanggung jawab yang besar bukan? Lagipula, untuk apa ayahnya
bicara seperti itu?
" Markas pusat
akan segera lenyap" Sesak. Sesak setelah pemuda Nara ini
mendengar perkataan yang ia yakini adalah suara dari ayah Ino. Shikamaru
mengerti sekarang. Apakah itu artinya−
DHUARR
Shikamaru terkejut hebat. Suara ledakan
menggema. Detik selanjutnya, komunikasi dengan ayahnya terputus secara
tiba-tiba . Suara ledakan besar itu. Ia yakin. Berasal dari markas pusat.
Pemuda berkuncir satu ini sangat yakin bahwa tidak akan ada yang bisa lolos
dari ledakan sebesar itu.
Bohong kalau Shikamaru bilang ia tidak sedih
sekarang. Hei, dia sedang kehilangan ayahnya sekarang! Siapa yang tidak sedih,
jika seorang ayah pergi meninggalkan kita untuk selamanya? Namun, kejeniusannya
mampu membuatnya menutupi kesedihannya.
Bicara soal kehilangan. Dia baru sadar kalau
di markas pusat tidak hanya ada ayahnya. Namun juga ayah dari rekan setimnya.
Shikamaru menoleh pada Ino yang ada di sebelahnya sejak tadi. Gadis itu tidak
menampilkan ekspresi apapun. Tatapannya kosong, namun, air mata deras mengalir.
Ino menangis dalam diam rupanya. Yah, kalau
Shikamaru tidak memaksa dirinya untuk tegar, bulir-bulir kristal pasti sudah
banyak berjatuhan dari mata hitamnya.
Shikamaru mengedarkan pandangannya. Dia baru
sadar kalau dirinya masih ditengah peperangan. Kabar mengejutkan tadi, hampir
menghilangkan kesadarannya.
"Shikamaru" suara dari sahabat
tambunnya. Dengan keadaan yang seperti ini, Shikamaru tau kalau Choji pasti
mengkhawatirkannya.
"Kita sedang berada dalam pertempuran!
Tak perlu ada komentar yang tidak perlu" Shikamaru menoleh pada Ino,
"kau juga, Ino" Ino menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti
mengalir dengan punggung telapak tangannya.
"Tapi, Shikamaru−"
"Kita masih berada dalam perang. Jangan
memikirkan hal lain!" potong Shikamaru pada ucapan Choji. Bagus. Sekarang
dia terdengar seperti orang marah-marah.
"Aku… t-tidak bisa, Sh-shika…"
sekarang bukan suara Choji yang ia dengar, melainkan suara lemah dari Ino.
"Aku ingin melihat… ayahku" kedua
tangan Ino tergerak untuk menutupi wajah cantik yang saat ini sedang kacau,
"…untuk yang terakhir" tambahnya.
Shikamaru berfikir sejenak. Mau tak mau dia
juga harus mengakui kalau dirinya juga ingin melihat ayahnya untuk yang
terakhir kalinya. Tapi entah kenapa, ia menganggap kalau ledakan besar tadi
tidak menyisakan apapun, kec uali darah dan potongan daging.
"Aku ingin ke markas pusat, Shika. Aku
yakin ayahku masih… hidup" hei, Ino saja masih punya keyakinan kalau
ayahnya masih hidup. Kenapa dirinya sudah putus asa begini?
"Tidak bisa Ino! Tugas kita disini.
Melawan musuh. Itu saja" entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut
Shikamaru.
Ino menatap Shikamaru sejenak. Entah apa yang
dipikirkan gadis itu. Tiba-tiba Ino berlari. Melewati Shikamaru.
Grep.
"Kau mau kemana?" Tanya Shikamaru
dengan sebelah tangannya menggenggam lengan Ino. Pemuda itu menatap tajam gadis
di depannya, "Markas Pusat−tentu saja" Ino sarkastik kepada
Shikamaru. Mata birunya masih berkaca-kaca namun berkilat tajam pada Shikamaru.
Shikamaru menggertakkan giginya, "Sudah
kubilang. Tugas kita disini!"
Alis Ino berkedut. Kenapa dia jadi marah?
"Kenapa kau marah, Shika?"
Shikamaru melepaskan genggamannya pada lengan
Ino. Ia memejamkan matanya sejenak. Jujur. Ia sendiri tidak tau kenapa dirinya
bisa semarah ini.
"Kau tidak bisa menerima kenyataan ini,
Shika."
"Apa?"
"Kau juga tidak bisa menerima kenyataan
ini, Shikamaru" ulang Ino. Shikamaru mentapnya tak percaya.
"Tidak ada yang memberi kita perintah
untuk ke markas, Ino" balas Shikamaru. Dirinya kacau saat ini. Entah
kenapa, ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Atau memang benar kalau
dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya?
Ino menghela nafas. Gadis itu mendongakkan
kepalanya dan mengedipkan matanya beberapa kali. Sial. Air matanya akan turun
lagi.
"Memang tidak akan ada yang bisa memberi
kita perintah lagi 'kan?" kata Ino menatap Shikamaru dengan bulir bening
yang ternyata sukses turun dari mata langitnya.
Benar. Tidak ada lagi orang yang akan menjadi
acuan perang. Madara memang cerdas. Uchiha sialan itu membunuh otak dari
perang. Dengan itu, perang akan kacau karena tidak ada lagi panduan perang.
Dan−kemenangan akan didapatkannya dengan mudah.
Pemuda jangkung itu menatap wajah kacau Ino.
Tak lama, matanya sedikit buram. Buram tertutup selaput air yang bening.
Tangannya mengepal. Yang selanjutnya, tetesan air jatuh didepan kakinya. Cukup
sudah. Pertahanannya runtuh.
Keduanya menangis dalam diam. Ino dan
Shikamaru. Menenggelamkan diri mereka dalam dunianya masing-masing. Lupakan
perang untuk saat ini. Mereka hanya ingin merasa sedikit lebih tenang dengan
apa yang telah terjadi. Dan−mungkin−menangis salah satu caranya.
Satu dari mereka−Choji−yang sedari tadi
memilih diam, bergerak untuk mendekati kedua sahabatnya itu. Tangannya tergerak
untuk meraih lengan Shikamaru dan Ino. Detik selanjutnya, Shikamaru dan Ino
sudah ada dalam dekapan Choji.
Entah karena terbawa emosi atau apa, Choji
ikut meneteskan air matanya. Bagaimanapun juga, Shikamaru dan Ino adalah
sahabatnya. Meskipun ia tidak mengerti bagaimana perasaannya jika ia ditinggal
pergi ayahnya, Choji tetap merasa sedih melihat kedua teman baiknya dalam
keadaan begini.
"Kalian pergilah ke markas pusat. Biar
aku dan ayahku yang berada disini" ucap Choji masih mendekap dua
sahabatnya. Masih menangis.
Bersamaan. Shikamaru dan Ino mendongakkan
kepalanya, "t-tidak apa-apa?" tanya Ino ragu.
Choji menarik kedua sudut bibirnya,
"tentu saja!"
Shikamaru menatap sahabat gembulnya sambil
tersenyum. Ia menghapus jejak air mata yang ada di wajahnya. Sama halnya dengan
Ino.
"Sekarang, pergilah" kata Choji
dengan nada candaan setelah melihat perubahan raut wajah Shikamaru dan Ino.
"Kau mengusir kami, eh?" Shikamaru
membalas candaan Choji. Ino yang melihat kelakuan dua pemuda di depannya ini
justru tertawa ringan.
"Tidak, tidak. Aku tidak mengusir kalian
kok. Kalian sendiri 'kan yang ingin ke markas?" tanya Choji. Ino
mengangguk.
Shikamaru lagi-lagi tersenyum, "baiklah.
Ayo, Ino," tangan Shikamaru mengamit lengan Ino. Mereka berdua mulai pergi
menjauhi Choji, "Terimakasih, Cho!" teriak Ino, lambaian tangan serta
senyum hanya menjadi respon Choji.
shikaino
Kepercayaan diri Ino hancur setelah sampai di
markas. Air matanya memaksa keluar melihat keadaan markas yang sudah rata
dengan tanah. Dia yang bersikeras untuk datang ke markas, sekarang justru
membeku.
"Kenapa berhenti?" ucapan Shikamaru
yang sudah berjalan didepannya membuyarkan lamunannya. Ino hanya menggeleng
sebagai jawabannya lalu mengikuti langkah Shikamaru.
Sial. Air matanya benar-benar jatuh saat
berada ditengah-tengah gundukan-gundukan tanah. Tiba-tiba dadanya merasa sesak.
Pandangannya menyapu apa saja yang ada disekelilingnya. Mulai dari pecahan-pecahan
kaca, sampai mayat orang-orang yang tergeletak begitu saja.
Sekelebat bayangan tentang ayahnya terputar
di otaknya. Tangannya meremas dadanya yang makin sesak diikuti aliran air mata
yang jatuh makin deras. Sementara tangan kirinya mendekap dadanya sendiri,
tangan kanannya membekap mulutnya yang serasa ingin menjerit
Ino melihat Shikamaru sedang berbicara dengan
seorang gadis yang dia kenal sebagai salah satu ninja medis. Yang Ino lihat
sekarang, Shikamaru menundukkan kepalanya, lalu menoleh pada dirinya. Ino tidak
begitu peduli. Pikirannya kalut hanya dengan melihat apa yang ada didepannya.
Tiba-tiba kaki jenjangnya lemas, seketika Ino
terhuyung jatuh ke tanah. Tidak sampai jatuh saat dua tangan kekar menggapai
lengannya dan menahannya.
Shikamaru. Pandangannya yang berbayang
melihat Shikamaru dihadapannya. Entah kenapa, jeritan yang semula ia simpan,
kini menggema dihadapan Shikamaru. Kata ayah terucap beberapa kali. Shikamaru
sendiri mengerti bagaimana perasaan Ino saat ini. Dia sangat mengerti.
Didekapnya Ino dengan erat. Bulir beningnya
mulai membasahi pakaian Shikamaru.
"Tidak ada yang selamat dari ledakan,
Ino."
Kontan saja Ino makin menjerit mendengar
bisikkan Pemuda Nara ini. Shikamaru pun makin mendekap Ino lebih erat. Tak lama
gadis itu pingsan dalam pelukan merasa kehilangan semuanya. Tuhan, kenapa Kau mengambil semua orang yang
aku cintai?
shikaino
Ino mengedarkan pandangannya bosan. Sudah
hampir satu jam musuh tidak melakukan penyerangan. Dan sekarang ia masih
melakukan pemeriksaan yang dilakukan para ninja medis. Apalagi, Ino baru siuman
dari pingsannya.
Pingsan ya… Seingat Ino, ia pingsan karena
Shikamaru bilang tidak ada yang selamat dari ledakan besar di markas pusat.
Dimana ayahnya berada.
Ayahnya. Orang yang selama ini ia jaga mati-matian
agar hal seperti ini tidak terjadi. Hm, Tuhan menyayangi ayahnya sampai-sampai
ayahnya dipanggil lebih cepat. Tidak hanya ayahnya, Tuhan juga menyayangi
ibunya dan gurunya. Mereka semua pergi terlalu cepat−menurut Ino.
"Anda baik-baik saja, Yamanaka-san"
kata seorang gadis yang sedari tadi memeriksa keadaan Ino dan sukses
membuyarkan lamunan Ino. Tiba-tiba raut wajah Ino berubah.
Dukk. Gadis dihadapan Ino merenggut sambil
memegangi kepala merah mudanya yang telah menjadi korban pukulan halus dari tangan
Ino, "bicaramu itu terlalu formal, jidat!"
"Ittai…
sakit, babi! Lagi pula, apa-apaan wajahmu itu? Matamu sudah memerah karena
menangis terus, tahu?" protes Sakura.
"Biarkan saja. Toh, dengan menangis aku
merasa sedikit lega" tangkis Ino.
Sakura mendesah pelan. Dia hampir menangisi
Ino melihat kacaunya keadaan sahabat ungunya ini, "bodoh," lirihnya
pelan. Ino menoleh saat mendengar suara lemah Sakura. Dan betapa kagetnya Ino
melihat Sakura dengan mata emerald yang sudah berkaca-kaca.
"S-sakura, kau…" Ino membuang muka
dari tatapan sendu Sakura. Setelahnya, mereka berdua diselimuti keheningan.
"Ino," Ino menoleh pada Shikamaru
yang baru saja masuk ke tendanya. Sakura bangkit dari duduknya, lalu pergi
berniat keluar dari tenda.
"Bagaimana keadaan Ino, Sakura?"
Tanya Shikamaru saat Sakura tepat dihadapannya, "Ino hanya kelelahan. Aku
pergi dulu ya," kata Sakura dengan senyum dan langsung melangkah keluar
tenda.
"Ino−"
"Aku ingin sendiri, Shika."
Shikamaru memejamkan matanya sejenk. Dia
tidak mengerti jalan pikiran perempuan. Dia tau, kalau Ino membutuhkan
seseorang saat ini. Tapi kenapa gadis itu pura-pura tegar?
Bukan ingin dibilang pahlawan atau apa karena
ingin menghibur Ino, Shikamaru hanya ingin dijadikan sandaran oleh gadis cantik
itu. Dia… peduli pada Ino.
Shikamaru berjalan pelan mendekati Ino.
Mendudukan dirinya disebelah Ino. Tidak peduli kalau sebenarnya Ino
melarangnya, "Kau… baik-baik saja?" Tanyanya ragu.
"Aku, baik-baik saja, Shika," jawab
Ino pelan dengan isakkan kecil. Isakkan Ino itu yang tidak mau didengar oleh
Shikamaru.
"Aku tau kau tidak kuat," ujar
Shikamaru memperhatikan wajah kacau Ino.
"Aku juga tau kau juga tidak kuat,"
balas Ino. Shikamaru tersentak. Ya memang dia sendiri tidak kuat.
"Ya, aku memang tidak kuat dengan
semuanya. Karena itu, aku ingin kau menghiburku," mendengar penuturan
Shikamaru, Ino tertawa renyah dan memukul pelan lengan Shikamaru dengan kepalan
tangannya.
Shikamaru bersikap seolah-olah pukulan Ino
benar-benar menyakitkan. Dia mengelus lengan yang menjadi korban dan meringis
pelan. Tak lama, senyumnya mengembang setelah melihat senyum Ino itu.
"Ayahmu pasti senang jika kau tersenyum
seperti itu setiap saat," ujar Shikamaru pelan sambil tertawa pelan.
Hening−respon yang didapat, Shikamaru menoleh kearah Ino keheranan. Dipandangannya,
Ino menunduk diam.
"Ino−"
"Shika, apa kau merindukan konoha?"
alis Shikamaru berkedut setelah Ino mengalihkan pembicaraannya.
"Ya, tentu saja" jawab Shikamaru
singkat.
"Kau pasti merindukan ibumu ya?"
Tanya Ino lagi. Kali ini, gadis itu menatap lawan bicaranya. Shikamaru
mengangguk.
"Apa yang akan kau katakan pada ibumu
nanti saat kau pulang sendiri? Tanpa ayahmu?"
Shikamaru terlihat berfikir. Pemuda itu
menggerakan kepalanya untuk melihat si penanya. Ino yang sedang diperhatikan,
kini salah tingkah. Terlihat dari tatapan matanya, "Maaf…" cicit Ino
kembali menundukkan kepalanya. Sekarang dia merasa bersalah.
"Aku akan meminta maaf pada ibuku,"
tiba-tiba Shikamaru bersuara. Ino kembali menatap pemuda di depannya yang
ternyata masih memandanginya, "tapi aku yakin, ibuku akan menerimanya.
Lagipula, kematian memang konsekuensi kita sebagai shinobi dan anggota
peperangan. Dan−kehilangan juga resiko seseorang sebagai kerabat dari shinobi
tersebut."
Ino sedikit tersentak. Tak lama, tatapannya
melembut. Lalu terbentuk sebuah senyuman di bibirnya, "ya, kau
benar."
"Tapi, aku selalu merasa kehilangan,
bukan yang 'menghilang'. Tuhan itu senang sekali melihatku merasa kehilangan
yah" Ino sedikit tertawa, namun lambat laun ia terdiam dengan bulir air
mata yang kembali turun.
Shikamaru mendesah pelan. Ia menghapus air
mata dipipi Ino dengan telunjuknya, "jangan berfikir seperti itu, Ino.
Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik untukmu."
Dengan air mata yang membanjiri wajahnya, Ino
segera menabrak Shikamaru untuk dipeluknya, "dengan mengambil semua orang
yang aku sayangi? Aku sendirian sekarang, Shika" ucap Ino masih terisak.
"Kau tidak sendiri, Ino. Selama ini kau
menganggap aku ini apa? Masih ada aku, Choji, Sakura dan yang lainnya"
kata Shikamaru membelai mahkota pirang Ino.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Tiba-tiba suasananya menjadi hangat. Dalam
tangisnya, Ino tersenyum samar.
"Kau janji?" Tanya Ino masih
didekapan Shikamaru.
Shikamaru tersenyum lembut, "Ya. aku
janji" dan Ino makin mengeratkan pelukannya.
"Aku pegang kata-katamu ya" kata
Ino setelahnya.
"Ck, mendokuse─aww,
sakit Ino!" gertak Shikamaru saat dirasanya Ino mecubit pinggangnya.
Ino melepaskan pelukannya lalu tersenyum
jahil, "itu karna kau tidak serius dengan ucapanmu, haha."
"Tentu saja aku serius" ucap
Shikamaru tersenyum dan mengacak pelan poni pirang Ino.
Ino kembali memeluk Shikamaru dengan erat.
Bisakah waktu ini berhenti untuk sesaat saja. Ino ingin diselimuti rasa bahagia
seperti ini setiap saat. Berlebihan mungkin. Hanya mendengar kata-kata yang
menurut Ino menenangkannya. Seperti−berjanji untuk tidak meninggalkannya. Hm,
itu semua benar-benar membuat Ino berbunga-bunga.
─nianara
atau baca disini:)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar