Minggu, 22 November 2015

Kue Cokelat

Aldi merogoh sakunya saat merasakan getaran yang berasal dari ponsel hitamnya. Nama Dita tertera di layar. Entah sudah berapa kali adiknya itu menelfon hari ini. Aldi terlalu malas untuk menjawab panggilannya walau hanya satu menit.


Ditbukan adik yang menyebalkan. Dia gadis penurut, tapi sifat manjanya benar-benar sudah kelewatan.


Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 19. Dan sejak Aldi berangkat ke kampusnya, adiknya terus-menerus menelfon dan mengirim pesan untuk memintanya membeli kue bolu cokelat kesukaannya.


Bukannya ia tidak ingin membelikannya, hanya saja dirinya sedang disibukkan dengan tugas kuliahnya yang menumpuk.


Drrt… drrt…


Andita Stephanie. Lagi.


Dengan berat hati dan merasa—mungkin Dita tidak akan mengganggu lagi jika ia angkat telfonnya— Aldi menekan tombol hijau di iPhone-nya, “Halo?”


“Jangan lupa kue pesananku ya!” suara Dita yang sedikit cempreng terdengar dari seberang.


Aldi menghela nafas, “Aku bahkan tidak tahu bisa pulang jam berapa. Tugasku masih banyak. Mintalah kue itu pada ayah,” ucap Aldi dengan nada acuh.


“Ayah baru saja membelikan ku cupcake strawberry. Aku ingin kau memberikanku sesuatu hari ini,” kali ini suara Dita sedikit memohon.


“Jangan bersikap seperti anak kecil, dit! Aku jadi ragu kalau hari ini umurmu 19,” ucap Aldi, “Aku masih ada kelas, jangan ganggu aku lagi,” lanjutnya cepat tanpa membuat Dita bisa menjawab.


――


“Al, jangan lupa bawa contoh skripsi punya gue besok ya!” ucap Lina sambil menepuk punggung Aldi.


“Tenang aja, gue bawa besok” jawab Aldi sambil tersenyum kearah teman satu kampusnya.


Lina tersenyum dan mengacungkan jempolnya, “Sip. Gue duluan ya!” katanya lalu pergi menghampiri segerombolan gadis—yang Aldi tebak sebagai sahabat-sahabat Lina.


Aldi melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. Pukul 19.15. Ia membuka smartphonenya. Jarinya bergerak mencari nama temannya yang lain, lalu menekan opsi call untuk menelfon.


Tak berselang lama, terdengar suara berat seorang lelaki yang menjawab, “Lo dimana Al? Kita udah diparkiran, jadi ke perpus gak?”


“Jadi, gua keparkiran sekarang, tunggu gue,” ucapnya. Aldi mulai mengambil langkah lalu menutup telfon.


Tiba-tiba iPhone hitamnya berdering.


Lagi-lagi adikknya.


“Ada apa?” ucap Aldi ketus.


“Kau dimana? Jemput aku ya. Sekalian beli kue bolunya,” jawab Dita dengan kikikan kecil diakhir kalimatnya.


Aldi memutar bola matanya mendengar Dita yang lagi-lagi merujuk meminta kue, “Sudah kubilang, aku sibuk hari ini. Sekarang aku akan pergi ke perpustakaan. Kupastikan aku akan pulang larut. Memangnya kau ada dimana, hah?”


Aku di tempat les. Oh, ayolah! Aku sedang ingin memakan kue cokelat! Ya ya?” rayu Dita dari seberang telfon, “Oh, dan satu lagi. Kau bahkan belum memberiku ucapan ulang tahun hari ini! Kakak macam apa kau ini,” tambah Dita.


“Adik macam apa kau, banyak maunya,” balas Aldi. Terdengar Dita yang menahan nafasnya.


“Dasar! Aku akan terus menunggumu sampai kau menjemputku. Meskipun aku harus menunggumu hingga tengah malam nanti,” ancam Dita tiba-tiba.


Aldi tertawa mengejek, “Jangan bicara yang aneh-aneh, dit. Pulang sana. Karena aku tidak akan menjemputmu.”


“Oh, kau akan menyesal Aldi Prasetya. Karena aku serius kali ini” kata Dita.


“Terserah,” balas Aldi.


Fine! Aku tetap menunggumu loh,” ucap Dita yang langsung memutus sambungan telfon.


Aldi menatap layarnya bingung, lalu tertawa sambil menggeleng kepalanya pelan. Detik selanjutnya, ia mematikan ponselnya. Dita memang bukan gadis berumur 19 yang seharusnya. 


Sudahlah, ia harus segera pergi ke perpustakaan sekarang. Tugasnya seperti tidak pernah habis.


――


Dinnn… dinnn…


Aldi terhenyak. Sial. Ia benci kembali ke masa itu lagi. Menjadikannya sebagai orang yang paling salah di dunia ini.


Pria muda itu mengedarkan pandangannya. Ia melirik traffic light didepan mobilnya. Lampu hijau. Itu sebabnya mobil dibelakangnya terus-terusan membunyikan klakson.


Kendaraan Aldi mulai melaju menuju tujuannya. Ia tidak ingin dia menunggu terlalu lama. Seperti dulu. Aldi tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Seperti dulu.


Aldi melirik bungkusan putih di jok belakang, lalu tersenyum.


Ya, ia tidak akan membiarkan kejadian yang lalu terulang lagi.


――


Aldi menyalakan daya iPhonenya. Pukul 22.25. Syukurlah, ia tidak harus menginap diperpustakaan untuk menyelesaikan tugasnya.


Handphonenya tak berhenti begetar saat dayanya menyala. Tanpa mengalihkan seluruh perhatiannya pada jalan didepannya, ia membaca pesan-pesan yang terpampang pada layar.


6 Message UnreadSerta beberapa panggilan tak terjawab.


Dan hampir seluruhnya adalah berasal dari Dita.


‘Sial. Kau mematikan telfon mu! Hoho, kau benar-benar akan menyesal, tuan Prasetya!’―8.05pm.


‘Nyalakan handphone Aldiiii!’―8.30pm.


‘Sudah kubilang aku serius. Aku masih menunggu loh’―8.44pm.


Kau lamaaaa! Disini semakin gelap Al, kau belum menyalakan hp. Kau tau kan tempat les ku selalu sepi jika sudah malam’―9.09pm.


‘Kak, ada dua orang pria yang terus memperhatikanku sejak tadi. Kau dimana, aku takut’―09.15pm.


‘Baiklah, aku menyerah. Maaf aku terus mengganggumu. Aku hanya ingin merayakan ulang tahunku kali ini bersamamu. Kau selalu sibuk. Kau selalu memberiku kue saat aku ulang tahun, kau belum memberikannya kali ini, karena itu, aku terus menagihnya. Maaf. Aku akan telfon ayah untuk menjemputku sekarang―09.35pm.


Itu tadi pesan terakhir dari Dita. Pesan selanjutnya adalah dari ayahnya. Aldi membuka pesan tersebut―dan masih fokus menyetir.


‘Kau dimana, Al? Kenapa telfonmu tidak aktif? Cepat kerumah sakit. Dita diserang orang asing’―09.57pm.


Dan Aldi menambah kecepatan mobilnya menuju rumah sakit.


――


Langkahnya terhenti di lorong rumah sakit saat ia melihat orang tuanya. Aldi menghampiri ayahnya yang berada disamping ibunya yang menangis pelan, “Apa yang terjadi, yah?” tanyanya.


“Dita bersikeras agar kau lah yang menjemputnya. Ayah tidak diperbolehkan menjemputnya. Sampai saat ia menelfon ayah, ayah langsung pergi. Begitu sampai disana, ayah melihat seorang ibu tua dengan adikkmu yang sudah pingsan dengan isi tas yang berantakkan. Mungkin ia terpukul saat mencoba mengelak dari orang yang menyerangnya,” Jelas Ayah Aldi panjang.


“Kemana kau?” lanjut ayahnya bertanya.


Aldi tersentak, pikirannya kalut, “Aku… aku minta maaf, ayah.”


“Kau tahu kepada siapa seharusnya kau meminta maaf, Al…” kali ini Ibunya yang berbicara.


Ya, Ibunya benar.


――


Aldi memberhentikan mobilnya tepat didepan tempat kursus―dimana Ia melihat Dita disana. Ia mempersilahkan adiknya untuk masuk ke dalam mobil. Dita tersenyum, lalu mengambil tempat di sebelah kakaknya.


Aldi kembali melajukan kendaraannya menuju rumah.


“Tumben cepat jemputnya?” ucap Dita. Ia menghadap kakak satu-satunya itu.


“Memangnya kenapa?” jawab Aldi.


Dita mengendikkan bahunya, “Hm, tidak apa-apa.”


Aldi tersenyum pelan, “Ngomong-ngomong, aku membawakan pesananmu,”Aldi melirik jok belakang, memperlihatkan bungkusan putih disana.


Dita tersenyum lebar saat mengambil bungkusan tersebut. Ia membuka kotaknya dan menemukkan kue cokelat dengan krim yang membentuk tulisan berupa ucapan disana.


Happy 20th Andita Stephanie!


Senyuman di paras cantik Dita melebar, “Tahun ini, kau tidak melupakannya, eh?” rayu Dita menaikkan sebelah alisnya.


“Aku tidak akan pernah melupakannya lagi,” ucap Aldi ditambah dengan senyum tipis dibibirnya.


“Ahhh… aku benar-benar membencimu!” kata Dita sambil tertawa.


Aldi masih tersenyum, “Aku juga menyayangimu.”


Dita mencolek krim putih kue ke wajah Aldi tiba-tiba, “Wajahmu saat tersenyum itu menjijikkan,” ucapnya lalu meleletkan lidah.


Aldi yang sedikit kaget, menghapus krim putih diwajahnya lalu tertawa, “Kubalas kau nanti!”


Dita tertawa lepas.


Tamat

Tidak ada komentar :

Posting Komentar