Jumat, 21 Juni 2013

Naruto fict : Bukan Akhir (ShikaIno)


"Semuanya, dengarkan aku"

Ino, Shikamaru dan Chouji menghentikan gerakannya melawan musuh. Shikamaru memejamkan matanya sesaat. Mencoba meresapi apa yang dikatakan ayahnya melalui jurus komunikasi dengan pikiran sebagai perantaranya.

"Kalian mengerti 'kan? pertama-tama, Ino-Shika-Chou!" ucap Shikaku setelah menjelaskan seluruh rincian strateginya.

"Bagaimana kalau strateginya tidak berhasil?" Tanya Shikamaru. Paling tidak, kita harus mempunyai beberapa rencana untuk jaga-jaga 'kan?

"Tetaplah hidup dan pandu mereka semua dengan kemampuanmu sendiri, Shikamaru!" jawab Shikaku tegas. Shikamaru terbelalak sesaat setelah sadar dengan apa yang didengarnya. Itu tanggung jawab yang besar bukan? Lagipula, untuk apa ayahnya bicara seperti itu?

" Markas pusat akan segera lenyap" Sesak. Sesak setelah pemuda Nara ini mendengar perkataan yang ia yakini adalah suara dari ayah Ino. Shikamaru mengerti sekarang. Apakah itu artinya−

DHUARR

Shikamaru terkejut hebat. Suara ledakan menggema. Detik selanjutnya, komunikasi dengan ayahnya terputus secara tiba-tiba . Suara ledakan besar itu. Ia yakin. Berasal dari markas pusat. Pemuda berkuncir satu ini sangat yakin bahwa tidak akan ada yang bisa lolos dari ledakan sebesar itu.

Bohong kalau Shikamaru bilang ia tidak sedih sekarang. Hei, dia sedang kehilangan ayahnya sekarang! Siapa yang tidak sedih, jika seorang ayah pergi meninggalkan kita untuk selamanya? Namun, kejeniusannya mampu membuatnya menutupi kesedihannya.

Bicara soal kehilangan. Dia baru sadar kalau di markas pusat tidak hanya ada ayahnya. Namun juga ayah dari rekan setimnya. Shikamaru menoleh pada Ino yang ada di sebelahnya sejak tadi. Gadis itu tidak menampilkan ekspresi apapun. Tatapannya kosong, namun, air mata deras mengalir.

Ino menangis dalam diam rupanya. Yah, kalau Shikamaru tidak memaksa dirinya untuk tegar, bulir-bulir kristal pasti sudah banyak berjatuhan dari mata hitamnya.

Shikamaru mengedarkan pandangannya. Dia baru sadar kalau dirinya masih ditengah peperangan. Kabar mengejutkan tadi, hampir menghilangkan kesadarannya.

"Shikamaru" suara dari sahabat tambunnya. Dengan keadaan yang seperti ini, Shikamaru tau kalau Choji pasti mengkhawatirkannya.

"Kita sedang berada dalam pertempuran! Tak perlu ada komentar yang tidak perlu" Shikamaru menoleh pada Ino, "kau juga, Ino" Ino menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir dengan punggung telapak tangannya.

"Tapi, Shikamaru−"

"Kita masih berada dalam perang. Jangan memikirkan hal lain!" potong Shikamaru pada ucapan Choji. Bagus. Sekarang dia terdengar seperti orang marah-marah.

"Aku… t-tidak bisa, Sh-shika…" sekarang bukan suara Choji yang ia dengar, melainkan suara lemah dari Ino.

"Aku ingin melihat… ayahku" kedua tangan Ino tergerak untuk menutupi wajah cantik yang saat ini sedang kacau, "…untuk yang terakhir" tambahnya.

Shikamaru berfikir sejenak. Mau tak mau dia juga harus mengakui kalau dirinya juga ingin melihat ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Tapi entah kenapa, ia menganggap kalau ledakan besar tadi tidak menyisakan apapun, kec uali darah dan potongan daging.

"Aku ingin ke markas pusat, Shika. Aku yakin ayahku masih… hidup" hei, Ino saja masih punya keyakinan kalau ayahnya masih hidup. Kenapa dirinya sudah putus asa begini?

"Tidak bisa Ino! Tugas kita disini. Melawan musuh. Itu saja" entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut Shikamaru.

Ino menatap Shikamaru sejenak. Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Tiba-tiba Ino berlari. Melewati Shikamaru.

Grep.

"Kau mau kemana?" Tanya Shikamaru dengan sebelah tangannya menggenggam lengan Ino. Pemuda itu menatap tajam gadis di depannya, "Markas Pusat−tentu saja" Ino sarkastik kepada Shikamaru. Mata birunya masih berkaca-kaca namun berkilat tajam pada Shikamaru.

Shikamaru menggertakkan giginya, "Sudah kubilang. Tugas kita disini!"

Alis Ino berkedut. Kenapa dia jadi marah? "Kenapa kau marah, Shika?"

Shikamaru melepaskan genggamannya pada lengan Ino. Ia memejamkan matanya sejenak. Jujur. Ia sendiri tidak tau kenapa dirinya bisa semarah ini.

"Kau tidak bisa menerima kenyataan ini, Shika."

"Apa?"

"Kau juga tidak bisa menerima kenyataan ini, Shikamaru" ulang Ino. Shikamaru mentapnya tak percaya.

"Tidak ada yang memberi kita perintah untuk ke markas, Ino" balas Shikamaru. Dirinya kacau saat ini. Entah kenapa, ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Atau memang benar kalau dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya?

Ino menghela nafas. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan mengedipkan matanya beberapa kali. Sial. Air matanya akan turun lagi.

"Memang tidak akan ada yang bisa memberi kita perintah lagi 'kan?" kata Ino menatap Shikamaru dengan bulir bening yang ternyata sukses turun dari mata langitnya.

Benar. Tidak ada lagi orang yang akan menjadi acuan perang. Madara memang cerdas. Uchiha sialan itu membunuh otak dari perang. Dengan itu, perang akan kacau karena tidak ada lagi panduan perang. Dan−kemenangan akan didapatkannya dengan mudah.

Pemuda jangkung itu menatap wajah kacau Ino. Tak lama, matanya sedikit buram. Buram tertutup selaput air yang bening. Tangannya mengepal. Yang selanjutnya, tetesan air jatuh didepan kakinya. Cukup sudah. Pertahanannya runtuh.

Keduanya menangis dalam diam. Ino dan Shikamaru. Menenggelamkan diri mereka dalam dunianya masing-masing. Lupakan perang untuk saat ini. Mereka hanya ingin merasa sedikit lebih tenang dengan apa yang telah terjadi. Dan−mungkin−menangis salah satu caranya.

Satu dari mereka−Choji−yang sedari tadi memilih diam, bergerak untuk mendekati kedua sahabatnya itu. Tangannya tergerak untuk meraih lengan Shikamaru dan Ino. Detik selanjutnya, Shikamaru dan Ino sudah ada dalam dekapan Choji.

Entah karena terbawa emosi atau apa, Choji ikut meneteskan air matanya. Bagaimanapun juga, Shikamaru dan Ino adalah sahabatnya. Meskipun ia tidak mengerti bagaimana perasaannya jika ia ditinggal pergi ayahnya, Choji tetap merasa sedih melihat kedua teman baiknya dalam keadaan begini.

"Kalian pergilah ke markas pusat. Biar aku dan ayahku yang berada disini" ucap Choji masih mendekap dua sahabatnya. Masih menangis.

Bersamaan. Shikamaru dan Ino mendongakkan kepalanya, "t-tidak apa-apa?" tanya Ino ragu.

Choji menarik kedua sudut bibirnya, "tentu saja!"

Shikamaru menatap sahabat gembulnya sambil tersenyum. Ia menghapus jejak air mata yang ada di wajahnya. Sama halnya dengan Ino.

"Sekarang, pergilah" kata Choji dengan nada candaan setelah melihat perubahan raut wajah Shikamaru dan Ino.

"Kau mengusir kami, eh?" Shikamaru membalas candaan Choji. Ino yang melihat kelakuan dua pemuda di depannya ini justru tertawa ringan.

"Tidak, tidak. Aku tidak mengusir kalian kok. Kalian sendiri 'kan yang ingin ke markas?" tanya Choji. Ino mengangguk.

Shikamaru lagi-lagi tersenyum, "baiklah. Ayo, Ino," tangan Shikamaru mengamit lengan Ino. Mereka berdua mulai pergi menjauhi Choji, "Terimakasih, Cho!" teriak Ino, lambaian tangan serta senyum hanya menjadi respon Choji.


shikaino


Kepercayaan diri Ino hancur setelah sampai di markas. Air matanya memaksa keluar melihat keadaan markas yang sudah rata dengan tanah. Dia yang bersikeras untuk datang ke markas, sekarang justru membeku.

"Kenapa berhenti?" ucapan Shikamaru yang sudah berjalan didepannya membuyarkan lamunannya. Ino hanya menggeleng sebagai jawabannya lalu mengikuti langkah Shikamaru.

Sial. Air matanya benar-benar jatuh saat berada ditengah-tengah gundukan-gundukan tanah. Tiba-tiba dadanya merasa sesak. Pandangannya menyapu apa saja yang ada disekelilingnya. Mulai dari pecahan-pecahan kaca, sampai mayat orang-orang yang tergeletak begitu saja.

Sekelebat bayangan tentang ayahnya terputar di otaknya. Tangannya meremas dadanya yang makin sesak diikuti aliran air mata yang jatuh makin deras. Sementara tangan kirinya mendekap dadanya sendiri, tangan kanannya membekap mulutnya yang serasa ingin menjerit

Ino melihat Shikamaru sedang berbicara dengan seorang gadis yang dia kenal sebagai salah satu ninja medis. Yang Ino lihat sekarang, Shikamaru menundukkan kepalanya, lalu menoleh pada dirinya. Ino tidak begitu peduli. Pikirannya kalut hanya dengan melihat apa yang ada didepannya.

Tiba-tiba kaki jenjangnya lemas, seketika Ino terhuyung jatuh ke tanah. Tidak sampai jatuh saat dua tangan kekar menggapai lengannya dan menahannya.

Shikamaru. Pandangannya yang berbayang melihat Shikamaru dihadapannya. Entah kenapa, jeritan yang semula ia simpan, kini menggema dihadapan Shikamaru. Kata ayah terucap beberapa kali. Shikamaru sendiri mengerti bagaimana perasaan Ino saat ini. Dia sangat mengerti.

Didekapnya Ino dengan erat. Bulir beningnya mulai membasahi pakaian Shikamaru.

"Tidak ada yang selamat dari ledakan, Ino."

Kontan saja Ino makin menjerit mendengar bisikkan Pemuda Nara ini. Shikamaru pun makin mendekap Ino lebih erat. Tak lama gadis itu pingsan dalam pelukan merasa kehilangan semuanya. Tuhan, kenapa Kau mengambil semua orang yang aku cintai?


shikaino


Ino mengedarkan pandangannya bosan. Sudah hampir satu jam musuh tidak melakukan penyerangan. Dan sekarang ia masih melakukan pemeriksaan yang dilakukan para ninja medis. Apalagi, Ino baru siuman dari pingsannya.

Pingsan ya… Seingat Ino, ia pingsan karena Shikamaru bilang tidak ada yang selamat dari ledakan besar di markas pusat. Dimana ayahnya berada.

Ayahnya. Orang yang selama ini ia jaga mati-matian agar hal seperti ini tidak terjadi. Hm, Tuhan menyayangi ayahnya sampai-sampai ayahnya dipanggil lebih cepat. Tidak hanya ayahnya, Tuhan juga menyayangi ibunya dan gurunya. Mereka semua pergi terlalu cepat−menurut Ino.

"Anda baik-baik saja, Yamanaka-san" kata seorang gadis yang sedari tadi memeriksa keadaan Ino dan sukses membuyarkan lamunan Ino. Tiba-tiba raut wajah Ino berubah.

Dukk. Gadis dihadapan Ino merenggut sambil memegangi kepala merah mudanya yang telah menjadi korban pukulan halus dari tangan Ino, "bicaramu itu terlalu formal, jidat!"

"Ittai… sakit, babi! Lagi pula, apa-apaan wajahmu itu? Matamu sudah memerah karena menangis terus, tahu?" protes Sakura.

"Biarkan saja. Toh, dengan menangis aku merasa sedikit lega" tangkis Ino.

Sakura mendesah pelan. Dia hampir menangisi Ino melihat kacaunya keadaan sahabat ungunya ini, "bodoh," lirihnya pelan. Ino menoleh saat mendengar suara lemah Sakura. Dan betapa kagetnya Ino melihat Sakura dengan mata emerald yang sudah berkaca-kaca.

"S-sakura, kau…" Ino membuang muka dari tatapan sendu Sakura. Setelahnya, mereka berdua diselimuti keheningan.

"Ino," Ino menoleh pada Shikamaru yang baru saja masuk ke tendanya. Sakura bangkit dari duduknya, lalu pergi berniat keluar dari tenda.

"Bagaimana keadaan Ino, Sakura?" Tanya Shikamaru saat Sakura tepat dihadapannya, "Ino hanya kelelahan. Aku pergi dulu ya," kata Sakura dengan senyum dan langsung melangkah keluar tenda.

"Ino−"

"Aku ingin sendiri, Shika."

Shikamaru memejamkan matanya sejenk. Dia tidak mengerti jalan pikiran perempuan. Dia tau, kalau Ino membutuhkan seseorang saat ini. Tapi kenapa gadis itu pura-pura tegar?

Bukan ingin dibilang pahlawan atau apa karena ingin menghibur Ino, Shikamaru hanya ingin dijadikan sandaran oleh gadis cantik itu. Dia… peduli pada Ino.

Shikamaru berjalan pelan mendekati Ino. Mendudukan dirinya disebelah Ino. Tidak peduli kalau sebenarnya Ino melarangnya, "Kau… baik-baik saja?" Tanyanya ragu.

"Aku, baik-baik saja, Shika," jawab Ino pelan dengan isakkan kecil. Isakkan Ino itu yang tidak mau didengar oleh Shikamaru.

"Aku tau kau tidak kuat," ujar Shikamaru memperhatikan wajah kacau Ino.

"Aku juga tau kau juga tidak kuat," balas Ino. Shikamaru tersentak. Ya memang dia sendiri tidak kuat.

"Ya, aku memang tidak kuat dengan semuanya. Karena itu, aku ingin kau menghiburku," mendengar penuturan Shikamaru, Ino tertawa renyah dan memukul pelan lengan Shikamaru dengan kepalan tangannya.

Shikamaru bersikap seolah-olah pukulan Ino benar-benar menyakitkan. Dia mengelus lengan yang menjadi korban dan meringis pelan. Tak lama, senyumnya mengembang setelah melihat senyum Ino itu.

"Ayahmu pasti senang jika kau tersenyum seperti itu setiap saat," ujar Shikamaru pelan sambil tertawa pelan. Hening−respon yang didapat, Shikamaru menoleh kearah Ino keheranan. Dipandangannya, Ino menunduk diam.

"Ino−"

"Shika, apa kau merindukan konoha?" alis Shikamaru berkedut setelah Ino mengalihkan pembicaraannya.

"Ya, tentu saja" jawab Shikamaru singkat.

"Kau pasti merindukan ibumu ya?" Tanya Ino lagi. Kali ini, gadis itu menatap lawan bicaranya. Shikamaru mengangguk.

"Apa yang akan kau katakan pada ibumu nanti saat kau pulang sendiri? Tanpa ayahmu?"

Shikamaru terlihat berfikir. Pemuda itu menggerakan kepalanya untuk melihat si penanya. Ino yang sedang diperhatikan, kini salah tingkah. Terlihat dari tatapan matanya, "Maaf…" cicit Ino kembali menundukkan kepalanya. Sekarang dia merasa bersalah.

"Aku akan meminta maaf pada ibuku," tiba-tiba Shikamaru bersuara. Ino kembali menatap pemuda di depannya yang ternyata masih memandanginya, "tapi aku yakin, ibuku akan menerimanya. Lagipula, kematian memang konsekuensi kita sebagai shinobi dan anggota peperangan. Dan−kehilangan juga resiko seseorang sebagai kerabat dari shinobi tersebut."

Ino sedikit tersentak. Tak lama, tatapannya melembut. Lalu terbentuk sebuah senyuman di bibirnya, "ya, kau benar."

"Tapi, aku selalu merasa kehilangan, bukan yang 'menghilang'. Tuhan itu senang sekali melihatku merasa kehilangan yah" Ino sedikit tertawa, namun lambat laun ia terdiam dengan bulir air mata yang kembali turun.

Shikamaru mendesah pelan. Ia menghapus air mata dipipi Ino dengan telunjuknya, "jangan berfikir seperti itu, Ino. Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik untukmu."

Dengan air mata yang membanjiri wajahnya, Ino segera menabrak Shikamaru untuk dipeluknya, "dengan mengambil semua orang yang aku sayangi? Aku sendirian sekarang, Shika" ucap Ino masih terisak.

"Kau tidak sendiri, Ino. Selama ini kau menganggap aku ini apa? Masih ada aku, Choji, Sakura dan yang lainnya" kata Shikamaru membelai mahkota pirang Ino.

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

Tiba-tiba suasananya menjadi hangat. Dalam tangisnya, Ino tersenyum samar.

"Kau janji?" Tanya Ino masih didekapan Shikamaru.

Shikamaru tersenyum lembut, "Ya. aku janji" dan Ino makin mengeratkan pelukannya.

"Aku pegang kata-katamu ya" kata Ino setelahnya.

"Ck, mendokuse─aww, sakit Ino!" gertak Shikamaru saat dirasanya Ino mecubit pinggangnya.

Ino melepaskan pelukannya lalu tersenyum jahil, "itu karna kau tidak serius dengan ucapanmu, haha."

"Tentu saja aku serius" ucap Shikamaru tersenyum dan mengacak pelan poni pirang Ino.

Ino kembali memeluk Shikamaru dengan erat. Bisakah waktu ini berhenti untuk sesaat saja. Ino ingin diselimuti rasa bahagia seperti ini setiap saat. Berlebihan mungkin. Hanya mendengar kata-kata yang menurut Ino menenangkannya. Seperti−berjanji untuk tidak meninggalkannya. Hm, itu semua benar-benar membuat Ino berbunga-bunga.

─nianara
atau baca disini:) 

Naruto fict : Just Simple Love (ShikaIno)


Aku berlari menyusuri koridor sekolah guna sampai dikelas untuk menemui sahabatku. Beberapa kali menabrak teman seangkatanku atau malah kakak kelasku tidak membuatku menghentikan langkahku. Meskipun aku memilih berhenti sebentar sekedar untuk meminta maaf pada orang-orang yang telah kutabrak.
Sampai pada tempat tujuanku, aku bergegas mencari si kepala pink sahabatku. Lalu berlari menuju meja terakhir didekat jendela, setelah tahu sahabatku sedang membaca sebuah buku disana.
“Sakuraaaa!” tak peduli apa yang akan dia lakukan setelah aku berteriak kearahnya, aku tetap berlari lalu menggebrak meja setelah sampai dihadapan pinky ini.
Yang aku lihat adalah raut wajah tidak suka dari Sakura. Oke, aku maklumi itu. Karena, dia memang tidak suka jika dia mendapat perlakuan yang menurut dirinya kasar seperti tadi.
Sakura menghela nafas kasar “ bisakah kau tidak berteriak dan menggebrak meja setiap bertemu aku dikelas? Kebiasaanmu buruk sekali, Ino.”
“Kau belum tau kan kalau sedang ada diskon besar-besaran di Mall baru itu? Kita harus kesana Sakura! Bagaimana kalau minggu ini?” seakan tidak terjadi apa-apa, aku mengalihkan pembicaraan. Berita inilah yang membuatku bergegas berlari dari kantin menuju kelas.
“Ck, terserah kau saja” Sakura kembali berkutat dengan buku-entahlah, aku tidak tahu dan tidak tertarik untuk mencari tahu.
Mengetahui sahabatku terlihat mengacuhkanku, aku cemberut “Ah, tapi aku sedang ingin ke taman ria yang juga baru itu” dan terus berbicara hal yang kusebut ‘berita bagus’.
“Huh?”
“Katanya kita akan dapat potongan 50 persen jika kita datang ke taman ria itu bersama pasangan. Sayang aku belum punya pasangan” aku terus melanjutkan percakapan-yang tidak bisa dibilang percakapan, karena hanya aku yang berbicara sejak tadi. Namun terhenti setelah mendengar seseorang meneriaki-ku dari belakang.
“Arrgghhh! Bisakah kau diam?!” jelas saja langsung kucari siapa si pelaku. Dan kutemukan si kepala-nanas-pemalas-namun-jenius dikursi paling belakang dengan wajah tampak kesal.
Aku memicingkan mata kearahnya “Apa masalahmu?!” kataku setengah berteriak.
Shikamaru mendesah kasar “Masalahku adalah aku tidak bisa tidur karena mulutmu yang cerewet itu terus berbicara.”
Merasa tertantang, aku melangkahkan kaki menuju meja dimana Shikamaru berada. Berdiri dihadapannya dan berkacak pinggang “Kalau kau merasa terganggu dengan suaraku, kau bisa pindah ketempat lain kan?!”
“Ck, bodoh. Jelas-jelas aku berada disini sejak sebelum kau berada dikelas”
“Hei, kelas ini bukan punyamu kan?” balasku tak mau kalah. Apalagi setelah dia mengataiku bodoh.
Mendokuse…!” setelah kudengar kata pamungkasnya keluar, kulihat dia mulai menutupi wajahnya dengan tangannya yang dilipat didepannya lalu menjatuhkan kepalanya dimeja. Mau tidur lagi atau yang tepatnya-mau mengacuhkanku eh?.
Tidak terima diacuhkan, aku menggebrak mejanya. Kontan saja itu membuat pemuda cerdas ini terkejut lalu mendelik tajam kearahku “Sebenarnya apa maumu?!” ucapnya, tidak terima kalau aku mengganggu rutinitas favoritnya.
“Kau mengacuhkanku, aku tidak suka itu. Dan… urusan kita belum selesai” ucapku sedikit tersenyum melihatnya seperti orang frustasi.
“Pasangan bodoh. Setiap hari kerjaannya hanya bertengkar. Jadi suami-istri kok tidak pernah akur sih.”
“Hei Shikamaru, jangan omeli istrimu terus.”
“KAMI BUKAN SUAMI ISTRI!!!” ucapku dan Shikamaru reflek secara bersamaan sambil memberikan tatapan membunuh kepada duo-aneh yang langsung mengambil langkah seribu. Cih, yang benar saja… suami-istri?  Naruto dan Kiba bodoh!

shikaino

“Ck, Shikamaru bodoh. Kau lihat  tadi? Dia langsung pergi begitu saja. Padahal kan sudah kubilang kalau masalah tadi itu belum selesai” cerocos ku pada Sakura yang duduk manis  di depan ku, mendengarkan keluhanku.
Sakura meminum jus jeruknya “Kalian ini tidak lelah? Setiap hari bertengkar seperti itu? Padahal, kau dan Shikamaru kan teman sejak kecil. Agak aneh, teman-atau malah sahabat yang setiap hari tidak pernah akur.”
Ucapan Sakura membuatku diam seribu bahasa dan memilih untuk meminum susu strawberry yang sejak tadi terlupakan.
Dan… yah. Yang dikatakan Sakura tadi benar. Aku dan Shikamaru memang teman sejak kecil. Bukan hanya Shikamaru, tapi juga pemuda tambun yang sering terlihat bersama Shikamaru, yaitu Choji. Bahkan, dulu aku sering mengklaim kalau mereka adalah sahabatku. Tetangga, teman belajar, dan orang tua kami yang memang dekat membuat aku, Shikamaru dan Choji dikenal sebagai sahabat dekat.
“Setahuku, kau tidak pernah bertengkar dengan Shikamaru, Ino” Kata Sakura membuyarkan lamunanku. “Ada apa sebenarnya?” lanjutnya.
Oke, aku jadi bernostagia. Aku memang lahir dan besar di Jepang, namun keluargaku pindah ke Jerman saat aku lulus Sekolah Dasar. Dan sebulan yang lalu, aku kembali ke Jepang dan langsung sekolah disini. Aku memilih sekolah ini karena aku tau, bahwa teman-temanku juga bersekolah di SMA Konoha ini. Khususnya Shikamaru dan Choji.
Saat sampai di Jepang, dengan kerinduan yang sangat, aku langsung menemui Shikamaru setelah bertemu dengan Choji sebelumnya. Aku bertanya padanya, apakah dia merindukanku selama di Jerman. Dan respon Shikamaru benar-benar membuat ku naik darah. Dia hanya melirikku dengan mata mengantuknya dan berbicara dengan santainya “Haruskah?” Padahal, aku sudah terang-terangan mengatakan kalau aku sangat merindukannya. Grr… Shikamaru menyebalkan!
Dan setelah kejadian itu, aku sering sekali marah pada Shikamaru karena dibuat kesal olehnya.
“Ino!” sekali lagi, Sakura membuat ku tersadar. “Kau ini kenapa bengong sih?.”
Aku sendiri hanya nyengir “Maaf. Aku hanya tidak habis fikir. Shikamaru itu menyebalkan ya? Kenapa dia selalu mengganggu ku sih. Aku jadi ragu dengan duplikat jeniusnya. Dia itu bodoh!”
“Begitu ya.”
Dengan gerakan patah-patah, kutengokkan kepalaku ke belakang. Shikamaru dengan tampang yang… uh menyebalkan, ada dihadapanku “Kenapa huh?” tantangku.
Setelah itu, kejadian yang berlangsung membuat ku kaget. Shikamaru menarik pergelangan tanganku. Jelas saja aku meronta. Dia menarikku menjauh dari kantin dan meninggalkan Sakura yang mungkin kebingungan.
“Lepas!” rintihku. Kupukul tangannya yang mencengkram tanganku.
“Shikamaru , lepaskan…!”
Selama Shikamaru menyeretku, aku terus menjerit tidak jelas. Aku bahkan tidak peduli dibawa kemana aku. Yang penting aku bisa melepaskan tangan Shikamaru ini dari tanganku. Sungguh, genggamannya ini terlalu kencang. Sakit…
Kejadian selanjutnya adalah Shikamaru melepaskan cengkramannya. Namun tangannya membekap mulutku, dan itu membuatku menutup rapat mataku. Aku tidak tau Shikamaru bisa seperti ini. Oke, aku takut sekarang.
“Jadilah pacarku.”
Eh, apa maksudnya? Aku membuka mataku yang membulat karena ucapan singkatnya. Shikamaru menarik tangannya yang membekap ku tadi. Aku menunduk sebentar “Maaf, kau bukan tipeku Shika.”
“Bodoh! Pura-pura saja.”
“P-pura-pura?”
Shikamaru menghela nafas, “Dengarkan aku. Kau pasti tahu Sasuke kan?” aku spontan mengangguk mendengar pertanyaan Shikamaru.
Tentu saja aku tahu Sasuke, dia itu pangeran sekolah. Aku sendiri sempat menyukainya. Tapi, tidak lagi karena aku merasa dia tidak akan membalas perasaanku.
“Sepertinya dia menyukai temanmu-Sakura” dan ucapan Shikamaru benar-benar hampir membuatku jantungan. “Sasuke selalu memperhatikannya. Tapi, kau tau kan, Uchiha. Gengsinya setengah hidup. Dan aku ingin membantu Sasuke untuk lebih dekat dengan Sakura.”
Sepertinya aku tidak bisa menolak. Sakura menyukai Sasuke. Dan mendengar ini, Sakura pasti senang sekali. Lagipula, aku juga bisa membantu Sakura.
“Oke!”

shikaino

“Sakura, kami berdua sudah jadian lho. Pulang berempat yuk.”
Itu tadi memalukan, aku tau. Tapi mau bagaimana lagi. Shikamaru itu orangnya tidak banyak ngomong. Aku sendiri jadi bingung bagaimana memberi tahu Sakura hal ini.
Dan karena biasanya Shikamaru pulang dengan Sasuke, sementara aku biasa pulang dengan Sakura, ini bisa dijadikan kesempatan.
“Ayo pulaaaang!” ucapku kelewat berlebihan. Ukh.
“Kalian betul jadian?” suara polos Sakura sukses membuat ku dan Shikamaru membatu sebentar.
Cepat-cepat aku bersikap biasa. “T-tentu saja. Kau ini bicara apa sih Sakura?”
“Tidak terlihat seperti orang pacaran” Sakura jeli sekali!
“Masa sih…” kata Shikamaru pelan. Aku melirik kearahnya.
Tiba-tiba Shikamaru mengalungkan lengannya di belakang kepalaku. Jari-jarinya bergerak-mendorong pipiku agar wajahku berhadapan dengan Shikamaru. I-ini diluar skenario…!
Deg! Kedua tanganku menahan tubuh Shikamaru untuk tidak terlalu dekat denganku. Bertahun-tahun kenal dengan Shikamaru, aku tidak pernah melihat wajahnya sedekat ini.
“Kau tidak percaya? Kami pacaran kok” ujar Shikamaru tenang. Kepalanya menoleh kepada Sakura. “Hehe, iya. Yasudah, ayo pulang” Sakura dan Sasuke kubiarkan berjalan agak jauh didepan.
Syukurlah Sakura tidak lagi curiga. Ini berkat Shikamaru. Walaupun itu tadi tidak bisa kuterima. Ck, Shikamaru tetap menyebalkan.
Mendadak sebuah tangan terulur kearahku. Tangan Shikamaru.
“Eh?” aku menatapnya keheranan. Shikamaru memutar bola matanya. Dengan cepat, dia menggandeng tanganku. Kontan, aku sedikit tersentak.
“Kau mau dicurigai lagi oleh Sakura?” benar juga. Bagaimanapun juga, aku harus siap seperti ini. Huh…
“Mana nomormu. Kita bertukar nomor ponsel.”
“Eh?”
“Tidak ada jawaban lain selain ‘eh’ hah?” sewot Shikamaru.
“Hanya saat kita pura-pura pacaran.”
“Baiklah.” Dan ini fakta kedua. Aku mengenal Shikamaru seumur hidupku, namun aku tidak pernah bertukar nomor ponsel. Yaaa, karena menurut Shikamaru, ini merepotkan. Dan menurutku, aku dan dia tetap bisa menjaga komunikasi tanpa harus lewat ponsel.

shikaino

Seminggu berlalu. Seminggu juga aku sudah melakukan rencanaku dengan Shikamaru. Sakura dan Sasuke juga terlihat lebih dekat sekarang. Selama ini, kami berempat selalu pulang bersama dan saat jam istirahat pun, dikantin bersama. Saat ini pun sama, liburan ke Taman Ria berempat.
“Sakura, kau duduk dengan Sasuke ya. Kau tahu kan kalau aku dan Shikamaru ingin berduaan” ucapku pada Sakura dan Sasuke sambil mengerling nakal saat ingin pergi ke wahana kincir raksasa.
Dan sekarang, kami berempat sudah naik kincir raksasa. Dengan Sakura dan Sasuke yang terlebih dulu naik. Sehingga, aku dan Shikamaru dapat melihat mereka dari belakang.
“Ah, sepertinya mereka semakin dekat ya” ucapku mengintip Sakura dan Sasuke dari bianglala yang kutumpangi bersama Shikamaru. Melihat Sakura tersenyum manis kepada Sasuke membuatku lega.
“Oh ya. Apalagi yang harus kita lakukan setelah Sasuke sukses, Shika?” tanyaku pada Shikamaru. Aku bergerak untuk duduk disebelahnya. Bianglala masih berjalan.
“Hm, apa ya?” Shikamaru hanya bergumam.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Ah iyaya. Berarti kita juga tidak perlu pura-pura pacaran lagi” dan entah mengapa, aku mersa Shikamaru sedikit tersentak dengan ucapanku.
“Maaf, Ino. Padahal kita selalu bertengkar, sekarang kita malah terlihat berdua terus. Aku tau kau tidak suka. Tapi… terimakasih  sudah mau membantuku.”
“Tidak apa-apa kok. Lagipula, kau kan juga tidak menyukai ini. Bukankah kau membenci ku?” Shikamaru menatapku. “Kita impas kan. Dan lagi, aku disini juga untuk membantu Sakura kok. Aku juga berterimakasih padamu” aku tersenyum pada Shikamaru. Aku sendiri bingung kenapa aku tersenyum kepadanya.
Entah kenapa, aku merindukan moment berdua bersama Shikamaru seperti ini. Seperti déjà vu, sejak kecil aku dan Shikamaru sering sekali naik wahana ini.
Aku mengalihkan pandanganku keluar, “Ah, kita sudah hampir sampai” aku bangkit dari dudukku, namun gerakanku terhenti saat merasakan genggaman di pergelangan tanganku. Siapa lagi kalau bukan tangan Shikamaru.
“Aku… tidak membencimu.”
Tubuhku membeku sesaat. Aku bingung sekarang “A-apaan sih!” aku menghempaskan tangan Shikamaru “Kau bahkan sama sekali tidak merindukanku saat aku ada di Jerman” ucapku emosi.
“Kau kesal padaku karena itu?” kata Shikamaru tenang, dia menatap mataku.
Sekarang aku kembali bingung. Ya. Aku kesal karena dia tidak peduli padaku saat aku di Jerman. Tapi kenapa aku kesal? S-sebenarnya kenapa aku ini?
“A-aku−“ ucapanku terhenti sempurna setelah kurasakan Shikamaru menarikku kedalam pelukannya. Jelas saja aku kaget setengah mati.
“Sh−shikamaru…”
“Aku tidak bermaksud mengacuhkanmu saat kau kembali ke Jepang. Aku sendiri sebenarnya senang kau telah kembali. Tapi, kau tau aku seperti apa, Ino. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan” ujar Shikamaru panjang. Aku masih mencari kesadaranku.
Shikamaru menelungkupkan tangannya dikedua pipiku. Wajahnya terlalu dekat! Kini dia menatapku intens “Aku tidak pernah membencimu, Ino” bisiknya.
Ya Tuhaaaaan… wajahnya semakin dekat. Aku sendiri hanya pasrah. Walau, aku yakin, wajahku sedang panik saat ini.
Grakkk
Shikamaru langsung mengambil jarak setelah petugas bianglala membuka pintu bianglala. Kincir raksasa ini sudah berhenti. Sudah waktunya turun rupanya. Wajahku masih tersipu hebat karena kejadian tadi. Shikamaru, kau… menyebalkan.

shikaino

Tenang Ino. Tenang. Dinginkan kepalamu. Anggap itu tidak pernah terjadi. Aaa… aku tidak bisaaa. Shikamaru bodoh. Kau sudah membuatku seperti ini!
Aku terlihat seperti orang gila saat ini. Aku mengacak rambutku kasar. Wajahku tidak karuan. Oke, aku masih sadar ini ditempat umum. Jadi, secepat mungkin kurapikan riasanku.
Pandanganku terhenti saat melihat Sasuke duduk dikursi taman sendiri. Aku mendekat kearahnya, “Dimana Sakura, Sasuke?” tanyaku.
Sasuke menoleh kepadaku, “Ke toilet. Mana Shikamaru?”
“Beli minum” Jawabku singkat. Kududukkan diriku disebelah Sasuke. Menikmati pemandangan taman ria ini.
“Ino…” Sasuke bersuara tiba-tiba. Aku menoleh kearahnya.
“Kau benar pacaran dengan Shikamaru?” Ketahuan kah?
Lagi-lagi, aku memilih mengalihkan pandanganku, “Harus bilang berapa kali sih. Kau tidak percaya ya?” ucapku diselingi kikikkan kecil.
“Aku… menyukaimu sih.”
Deg.
Aku menatap Sasuke tidak percaya. “Aku selalu memperhatikanmu, Ino” ujar Sasuke. Jadi, selama ini, bukan Sakura yang diperhatikan oleh Sasuke. Tapi… aku. Aku?
“Tenang saja, Sasuke” dan, oh… sejak kapan Shikamaru ada disini? “Aku dan Ino hanya pura-pura. Kukira kau menyukai Sakura. Makannya aku pura-pura pacaran dengan Ino agar kau bisa dekat dengan Sakura.”
“Ino bukan pacarku.”
Kenapa sakit? Ini sakit sekali… Shikamaru dapat mengatakan kalau aku bukan pacarnya dengan lancar. Dia bilang begitu dengan jelas. Aku kenapa?
“Benar, aku tidak butuh pacar seperti Shikamaru” bodoh! Bukan itu yang ingin kukatakan.
“Shikamaru, hapus nomor ponselku sekarang” kataku. Tangan ku terulur, seolah meminta ponselnya. “Kau janji akan menyimpannya selama pura-pura pacaran kan?” tambahku.
“Oke. Tapi, ini merepotkan. Kau bisa menghapusnya sendiri, nih” Shikamaru menyodorkan ponselnya kearahku. Aku mendekat kearahnya bermaksud untuk meraih ponselnya. Tapi, dia justru mengangkat ponselnya tinggi –tinggi. Aku yang lebih pendek darinya, tidak bisa menggapainya.
Aku tidak bisa menggapai ponselnya. Aku bahkan tidak bisa menggapai perasaanku. Perasaanku… pada Shikamaru.
“Sini, Shika!”
“Ambil sendiri.”
“Aku tidak sampai.”
Aku tidak mengerti. Aku meneteskan air mata sekarang. Pertahananku runtuh. Ya. Aku sadar sekarang. Aku mencintai Shikamaru.
“Kenapa malah main-main sih! Kemarikan ponselmu!” omelku. Bulir air mata masih turun. Yang aneh, aku juga melihat wajah tidak terima dari Shikamaru.
Tiba-tiba Shikamaru menabrakku. Bibirnya bersentuhan dengan bibirku. Jantungku berdegup kencang. Tidak pernah sekencang ini. Apa yang dia lakukan? Shikamaru… kau membuatku kacau!
“Sudah jelas kan? Aku tidak bisa menghapus nomor ponselmu. Itu karena aku menyayangimu, Ino. Perasaan yang kurasakan ini perasaan lebih dari sahabat, kau mengerti kan?” ujar Shikamaru setelah melepas tautan bibirnya.
“S-suaramu terlalu kencang, bodoh…” bisikku. “Tapi, terimakasih. Aku juga menyayangimu…” Lagi-lagi Shikamaru memelukku. Aku hanya membalas perlakuannya. Begini ya rasanya jatuh cinta?
“Akhirnya mengaku juga.”
“…”
“…”
 “Sudah beres, Sakura” Eh?
Sakura muncul dari balik tembok bangunan yang ada disebelah taman secara tiba-tiba “Shikamaru sudah mengaku?”
“Ya, begitulah.”
“Ng, kalian bicara apa?” ucapku pelan kebingungan.
“Kalian tidak tahu kan? Aku dan Sasuke sudah jadian dua hari yang lalu. Dan kami berdua sadar kalau kalian hanya pura-pura pacaran. Terlihat jelas kok, kalian tidak mesra seperti orang pacaran” kata Sakura menghampira Sasuke. Aku dan Shikamaru sejak tadi diam. Aku memang tidak punya bakat akting ya?
“Jadi, Sasuke tidak benar-benar menyukaiku ya?” ucapku dengan maksud candaan. Tapi, sepertinya, Sakura menanggapi ucapanku, “Bodoh, Sasuke-kun sudah jadi milikku, Ino. Dia tidak mungkin menyukaimu!”
Aku hanya tertawa dalam hati. Sakura tidak pernah berubah jika bicara soal Sasuke. “Santai saja, Sakura. Aku hanya bercanda kok” kataku sambil terkikik kecil.
“Huh, tetap saja!” Sakura menatapku dan Shikamaru bergantian, “lagipula… kau sudah ada yang punya, Ino.”
Shikamaru melingkarkan tangannya di pinggangku. Responku adalah menatapnya tajam. Tapi Sakura maupun Sasuke justru tertawa. Mungkin mereka senang melihat pasangan baru ini. Ckck.
“Kami duluan ya.” Kata Sasuke singkat dan menghilang bersama Sakura dibalik kerumunan pengunjung taman.
“Mereka sudah jadian dua hari yang lalu. Kalau begitu, untuk apa kita masih pura-pura tadi.”
“Biarkan saja. Toh, kalau tadi kita tidak pura-pura, aku tidak mungkin menciummu.”
Oke, kurasa cukup. Ucapan Shikamaru ditambah senyum anehnya yang terakhir itu membuatku takut. Dan sekarang, aku juga tahu satu hal yang tidak kuketahui dari Shikamaru selama aku mengenalnya. Pemuda ini berbahaya!

─nianara